Catatan Bagindo Yohanes Wempi

MASJID Al-khlas Mapolres Padang Pariaman merupakan buah tangan dingin Kapolres AKBP Taufik Ismael dari hasil infak, sadakah dan sumbangan dari para anggota polisi yang dinas di Polres Padang Pariaman dalam pembangunanya. Masjid Al-Ikhlas ini merupakan masjid pertama di Ibukota (Pusat Pemerintahan) Kabupaten Padang Pariaman, Parikmalintang, yang khutbah Jumat-nya berbahasa Indonesia.

Awalnya masjid ini adalah mushala (tempat shalat) di komplek mapolres. Pada tahun 2014 terjadi pembicaran hangat beberapa kali antara penulis dan AKBP Taufik Ismael tentang upaya mengondisikan masyarakat Padang Pariaman madiani. Banyak dari diskusi tersebut yang bisa dilakukan, dan ada kesepahaman penulis dengan AKBP Taufik Ismael (penulis panggil Ndan, kependekan dari Komandan).

Di antaranya, penulis mengusulkan agar mushala di lingkungan mapolres tersebut dijadikan masjid. Pada waktu itu Ndan Taufik berkeinginan agar ada masjid yang khutbah Jumat-nya berbahasa Indonesia di lingkungan Ibukota Parikmalintang. Namun, kata penulis, itu tidak memungkinkan terwujud jika masjid yang sudah ada di lingkungan ibukota kabupaten ini diubah khutbahnya dari berbahasa Arab menjadi berbahasa Indonesia.

"Jika usulan itu diberikan ke anak nagari maka akan terjadi perdebatan dan tidak akan memungkinkan," kata penulis waktu itu. Dan, masih banyak alasan yang penulis sampaikan pada Ndan Taufik bahwa masjid yang ada sekarang tidak bisa diubah khutbahnya. Maka, satu-satunya jalan adalah pemerintah daerah membangun masjid melalui persetujuan anak nagari.

Bagindo Yohanes Wempi, penulis

Namun, agar niat Ndan Taufik bisa terwujud, penulis mengusulkan agar mushala di lingkungan mapolres ini saja yang diubah menjadi masjid. Pada waktu itu Ndan Taufik agak ragu mewujudkannya karena mendengar argumen penulis terdahulu tentang begitu ketatnya syarat-syarat mendirikan masjid anak dagang (pendatang - red) dalam nagari di Padang Pariaman.

Penulis pun meyakinkan pada waktu itu bahwa konteknya bisa dibuat berbeda, yakni Ndan Taufik memusyawarakan dengan anak / tokoh-tokoh masyarakat Nagari Parikalintang bahwa mushala yang hendak diubah jadi masjid di lingkungan mapolres ini hanya untuk kebutuhan anggota polisi menunaikan shalat Jumaat. 

Alhamdulillah... berkat pendekatan Ndan Taufik dengan sering shalat berjamaah di surau-surau dan masjid setempat, ia bertemu dengan Walinagari Parikalintang dan akhirnya Masjid Al Ikhlas Mapolres Padang Pariaman dapat diwujudkan.

Shalat Jumaat perdana di Masjid Al Ikhlas Mapolres Padang Pariaman  ini dilakukan dengan acara peresmian khusus. AKBP Taufik Ismael meminta penulis mendatangkan Gubernur Sumbar Irwan Prayitno, dan Ndan Taufik akan mengundang Kapolda untuk hadir. Di samping itu juga diundang para 'ulama Padang Pariaman. 

Untuk mendatangkan Gubernur Sumbar, penulis mendampingi Ndan Taufik bertemu Irwan Prayitno, Kita bertiga bertemu di rumah dinas gubernur sore hari. Alhamdulillah... gubernur menyatakan  bersedia hadir untuk meresmikan Masjid Al Ikhlas Mapolres Padang Pariaman  tersebut. 

Cukup banyak juga pembicaraan antara kami dengan gubernur waktu itu. Bahkan Gubernur Sumbar Irwan Prayitno memberikan apresiasi kepada Ndan Taufik yang mampu mewujudkan masjid yang ada khutbah Jumat-nya dengan berbahasa Indonesia di Ibukota Kabupaten Padang Pariaman.

Selesailah satu poin action hasil diskusi penulis dengan Ndan Taufik tentang mewujudkan masjid. Setelah itu, Ndan Taufik penulis berikan masukan untuk menjadikan masyarakat Padang Pariaman madani perlu dilakukan tindakan tegas terhadap penyakit masyarakat yang saat itu meresahkan serta dapat merusak generasi seperti orgen tunggal mesum di acara pemuda nagari, berjudi di warung-warung sampai melupakan anak - bini dan maksiat lainnya.

Alhamdulillah... bertepatan malam minggu, penulis dihubungi Ndan Taufik, mengajak razia orgen mesum di satu acara nagari. Pada malam itu, sekira pukul tiga dinihari, pelaksanaan razia orgen mesum berlangsung sukses, di mana Tim Polres menangkap para biduan melakukan tingkah-laku porno aksi dan semua pengunjung yang sedang berjoget ria sambil minum-minuman beralkohol.

Pada malam itu juga puluhan orang, dibawa ke Mapolres Padang Pariaman untuk diberikan pembinaan, lalu dilepaskan. Razia orgen mesum ini dilakukan beberapa kali yang akhirnya memberi dampak positif, yaitu hilangnya orgen mesum di acara keramaian di nagari-nagari dalam Kabupaten Padang Pariaman.

Tidak itu saja, penyakit masyarakat lain seperti judi lapau / warung juga hilang, Sebab, Ndan Tafik juga melakukan razia penangkapan perjudian tersebut. Pada akhirnya Padang Pariaman pada saat itu tidak adalagi ada penyakit masyarakat yang meresahkan. Masyarakat takut kena razia oleh Kapolres 'alim.

AKBP Taufik Ismael lulusan Akpol, lupa penulis angkatannya, namun seking dekatnya penulis dengan beliau, pernah beliau membawa anak-anak, istri dengan penulis untuk olah raga menembak di ruangan latihan Perbakin Sumbar lokasi kawasan GOR H Agus Salim. 

Terakhir kebersamaan penulis dengan Ndan Taufik ini adalah sama-sama melaksanakan kegiatan kemah bakti pramuka Saka Bahayangkara se-Sumatera Barat yang pada waktu itu kakak pramuka menunjuk penulis selaku Ketua Saka Bhayangkara. Acara kemah pramuka Saka Bahayangkara yang penulis laksanakan di INS Kayutanam tersebut sudah tahunan tidak dilaksanakan/diselengarakan oleh Saka Bhayangkara Polda Sumbar. 

Alhamdulillah... acara pramuka Saka Bhayangkara sukses, menjadi model baru dan prestasi di lingkungan Polres Padang Pariaman. Kesuksesan tersebut diiringi dengan Ndan Taufik mendapatkan penghargaan pramukan tingkat nasional dan diikuti Bupati Padang Pariaman juga mendapatkan.

Ndan Taufik tidak lama jadi Kapolres Padang Pariaman. Jika tidak salah, kurang dari 5 bulan, masa jabatan terpendek seorang kapolres yang dicintai masyarakat. Akhirnya beliau ditarik ke Mabes Polri untuk dikirim menjadi Tim Kepolisian PBB ke Negara Sudan. 

Terakhir penulis sempat berkomunikasi ditahun 2015, di mana beliau akan berangkat ke negara sudan yang sedang konflik pada waktu itu.

Kamis kemarin, penulis kembali shalat di Masjid Al Ikhlas Mapolres Padang Pariaman yang sudah 6 tahunan tidak penulis kunjungi. Setalah shalat, penulis melihat ke sekeling masjid sambil mengambil gambar bangunan, dan prasasti tanda-tangan Gubernur dan Kapolda Sumbar sebagai tokoh yang meresmikan.

Penulis memiliki cerita yang sangat heroik dan memiliki kenangan kecil di masjid ini, suatu perjuangan untuk mewujudkan Padang Pariaman Madani yang tidak akan pernah terlupakan dan akan menjadi cerita menarik untuk ditulis serta diketahui orang lain. [*]