Subscribe Us

header ads

Camat Sintoga Asyari: Berjuang di Tengah Covid-19


PANDEMI Corona Virus Desease 2019 (Covid-19) sudah empat bulan mengguncang dunia yang menyebabkan perubahan drastis kehidupan manusia. Wabah ini kemudian masuk pula ke Kabupaten Padang Pariaman. Pemerintah dan masyarakat pun merasakan dampak yang sangat besar atas wabah virus corona ini.  

Hingga saat ini tercatat sudah empat warga Kabupaten Padang Pariaman  terkonfirmasi positif covid-19, satu di antaranya warga Kecamatan Sintuk Toboh Gadang (Sintoga), TA (18 tahun).

Pasien dengan inisial TA ini dinyatakan positif terpapar covid-19 pada 31 Maret 2020 lalu. Selama menjalani isolasi kebutuhan dan penghidupan TA dan keluarga ditanggung oleh pemerintah dan diantarkan langsung oleh Camat Sintoga, Asyari SPd.

Pria asal Batipuah - Tanah Datar - kelahiran 13 Desember 1964 ini menjabat sebagai Camat Sintoga sejak tahun 2018. Sebelumnya ia pernah menjabat sebagai Sekretaris Camat Lubuk Alung. 

Semenjak mengetahui ada warganya terkena covid-19, ia langsung mengambil tindakan untuk penanganan.. Beberapa langkah telah diambil Asyari dalam mengantisipasi penyebaran covid-19 di wilayah kerjanya.  Di antaranya dengan melakukan mesosialisasikan kepada seluruh warga agar selalu berada di rumah, sering cuci tangan dengan sabun serta selalu berprilaku hidup bersih dan sehat sesuai dengan anjuran pemerintah.

Perlakuan khusus ia berikan kepada pasien dengan inisial TA dan keluarganya dengan menanggung kebutuhan sembako, mengingat kondisi pasien yang terkonfirmasi Covid-19 harus melakukan isolasi diri di rumah saja sesuai dengan anjuran Dinas Kesehatan. 

"Selama TA dan keluarga melakukan isolasi diri, segala kebutuhan mereka kami antar berupa bahan makanan. Namun, semenjak hari pertama puasa, kami antarkan makanan siap santap, baik untuk sahur maupun berbuka," ujar Asyari. 

Pada saat mengetahui TA positif covid-19, lanjut dia, ia langsung menyuruh agar warga tersebut melakukan isolasii diri selama 14 hari ke depan, dan pihaknya berupaya memenuhi kebutuhan warga tersebut. 

"Malam pertama isolasi berlangsung, TA menyatakan ingin makan martabak, kami menyanggupi  saya langsung yang mengantar martabak tersebut ke depan rumah TA. Hal ini saya lakukan agar TA tidak nekat ke luar rumah sehingga dikuatirkan dapat  menimbulkan dampak yang besar terhadap warga lainnya.” tuturnya.

Ia menambahkan akan berupaya memenuhi kebutuhan yang diperlukan oleh warganya ini selagi mampu dan wajar untuk dipenuhi hingga TA yang tinggal bersama neneknya dinyatakan sembuh. 

Sedangkaj ibu TA, DM, yang kemudian juga terkonfirmasi covid-19, ulas Asyari, saat ini diisolasi di Balai Pelatihan Kesehatan Padang Besi, Kota Padang, hingga dinyatakan sembuh. Mengingat DM merupakan tulang punggung keluarga, sekarang ini TA masih membutuhkan bantuan untuk memenuhi penghidupannya.

Asyari juga menyebutkan,  untuk pemenuhan kebutuhan TA dibantu oleh Bupati Ali Mukhni dan Sekretaris Daerah Kabupaten (Sekdakab) Padang Pariaman Jonpriadi, di mana dana tersebut digunakan untuk membelikan asupan gizi TA seperti susu dan vitamin yang dibutuhkan untuk ketahanan tubuh gadis ini.

“Selain bantuan dari Pak Bupati dan Pak Sekdakab, dana yang kami gunakan untuk pemenuhan kebutuhan TA berasal dari pemerintah nagari.” ujarnya lagi.

Dalam mengawasi perkembangan TA, Camat Asyari melakukan pemantauan tiga kali setiap hari. Hal ini bertujuan agar TA tidak keluar rumah dan tidak menimbulkan risiko kepada warga lainnya serta untuk memastikan agar TA tetap di rumah saja.

“Kami selalu melakukan pemantauan mengingat masih ada berita yang menyebutkan TA masih saja berkeliaran ke luar rumah untuk membeli bakso. Namun, kami memastikan, berita tersebut tidak benar. Selama menjalani isolasi, TA sangat patuh dan koperatif melaksanakan anjuran tersebut.” katanya menerangkan. 

Selain kebutuhan sembako, tanggungan lain yang dipenuhi pemerintah berupa listrik, air dan kuota internet yang telah disediakan selama satu bulan terakhir.

Selama menangani dan mengawasi TA, juga memberikan pengaruh terhadap kehidupan Asyari, di mana keluarganya memintanya untuk menjaga jarak karena menurut mereka Asyari memiliki kontak langsung dengan TA sehingga keluarganya khawatir ia terpapar Covid-19.

Selain fokus memenuhi kebutuhan TA sebagai pasien dalam pengawasan (PDP), hal lain yang juga dilakukan oleh Camat Sintoga ini adalah selalu melakukan sosialisasi terkait pembatasan sosial berskala besar (PSB) kepada masyarakat dan pengurus masjid untuk tidak melaksanakan tarwih dan shalat Jumat di masjid. 

"Alhamdulillah... berdasarkan hasil dua kali test swab terakhir yang dijalani TA dan dikeluarkan pihak Laboratorium Rumah Sakit Pendidikan (RSP) Universitas Andalas, TA sudah dinyatakan negatif covid-19. Meski demikian, sesuai prosedur, TA masih harus menjalani isolasi hingga Selasa (5/5/2020)," kata Asyari yang dihubungi Wartawan CanangNews via telepon, Jumat (1/5/2020) malam. (R/ZT) 

Posting Komentar

0 Komentar