Header Ads

jasa

Yetri Kasim: Kurikulum 2013 Menuntut Guru Lebih Cerdas

Aligustika Yetri SPd, guru Kelas V SDN 03 Nan Sabaris

BERTUGAS sebagai pendidik memiliki tanggungjawab yang sangat besar. Tidak hanya secara moral, tetapi juga dalam hal penguasaan keilmuan, baik berupa teori maupun penerapannya. Guru bertanggungjawab membentuk moral, karakter dan kemampuan murid-muridnya menjadi pribadi yang mandiri dan bermanfaat.

Nukilan itu mencuat dalam pembicaraan penulis dengan Aligustika Yetri SPd alias Yetri Kasim di media sosial – seorang guru, pencerah & motivator – di ruang Kelas V Sekolah Dasar (SD) 03 Kecamatan Nan Sabaris, Kabupaten Padang Pariaman, Rabu 6 Februari 2019 siang menjelang sore.

Buk Yet – demikian sapaan murid-murid dan teman-teman sejawat – secara posisi hanyalah guru kelas. Sebab, perempuan kelahiran 17 Agustus 1966 ini baru diangkat menjadi pegawai negeri sipil pada tahun 2007. Sebelumnya, semenjak tahun 2003, Yet bertugas sebagai guru bantu.

Namun, ada informasi lain yang mendorong penulis menemui Yet. Seorang teman – Ir Rijal Islamy – menceritakan, teman sekelasnya sewaktu SD di Batu Kambiang, Kabupaten Agam, ini bukan sekadar guru kelas biasa. Yet merupakan instruktur kabupaten / kota untuk melatih guru-guru dan para kepala SD se-Kabupaten Padang Pariaman untuk penerapan Kurikulum 2013 (K.13).

Yetri Kasim sewaktu jadi narasumber Seminar Regional PTK di Lampung

Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang berlaku dalam Sistem Pendidikan Indonesia. Kurikulum ini merupakan kurikulum tetap diterapkan oleh pemerintah untuk menggantikan Kurikulum-2006 (yang sering disebut sebagai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) yang telah berlaku selama kurang lebih 6 tahun. Kurikulum 2013 masuk dalam masa percobaanya pada tahun 2013 dengan menjadikan beberapa sekolah menjadi sekolah rintisan  - - https://id.wikipedia.org/wiki/Kurikulum_2013 

Yet membenarkan informasi tersebut. Ia menjadi Instruktur Kabupaten dari unsur guru bersama unsur kepala sekolah dan pengawas untuk pelatihan penerapan Kurikulum 2013 semenjak tahun 2014 setelah terpilih untuk mengikuti pelatihan untuk menjadi instruktur (training of trainer) di Kota  Malang, Jawa Timur. Selain itu, ia menjadi pemenang Lomba Karya Tulis Ilmiah Penelitian Tindakan Kelas (LKTI PTK) tingkat nasional dua tahun berturut-turut, 2014 & 2015.

Banyak pengalaman berharga dan memilukan yang dia alami, termasuk ketika menghadiri pertemuan para pemenang LKTI PTK di Jakarta dan Bandar Lampung . Namun, semua itu mendorong semangatnya untuk berbagi ilmu dan pemahaman kepada sesama guru dan kepala sekolah.

Tahun 2016 – 2018, selain mengajar sebagai guru kelas, Yet dikontrak oleh Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Sumbar guna mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat) penerapan Kurikulum 2013  bagi guru-guru sasaran dan kepala sekolah untuk Kabupaten Padang Pariaman yang memiliki sekitar 500 unit SD. Kegiatan pembekalan dilakukan secara berkelompok, masing-masing selama enam hari dengan 52 jam belajar.

Yetri Kasim ketika jadi instruktur pelatihan Kurikulum 2013

Setiap kali meninggalkan sekolah untuk menjadi instruktur, Yet menyerahkan tugas-tugasnya selaku guru kelas kepada guru honor, tentu saja dengan berbagi uang lelah. Meski demikian, ketika kembali ke sekolah, memberi tambahan belajar sore kepada murid-muridnya.

Menurut Yet, LPMP Sumbar melaksanakan pelatihan Kurikulum 2013  hanya selama tiga tahun, 2016 – 2018 dengan menanggung seluruh anggaran pelaksanaannya. Tahun 2018 LPMP hanya jadi pemantau. Mulai tahun 2019 ini pelaksanaan pelatihan kurtilas diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah kabupaten / kota melalui dinas pendidikan masing-masing.

Perjalanan hidup Yet sebelum menjadi guru cukup panjang dan berliku. Tahun 1977 ia pindah sekolah dari SD di Batu Kambiang ke Kota Bandung mengikuti orangtuanya yang pindah tugas. Namun, ketika Kelas I di SMA Negeri 1 Bandung, Yet mengalami kecelakaan yang menyebabkan kedua matanya cidera dan tak bisa melihat.

“Saya menjalani perawatan di rumah sakit selama 144 hari hingga mata saya dapat melihat kembali. Selain itu, saya tetap dibolehkan melanjutkan sekolah tanpa tinggal kelas,” katanya mengenang.

Yetri Kasim menjelaskan Kurikulum 2013 kepada guru-guru sasaran

Tamat SMA, Yet memilih jenjang Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa (SGPLB) yang merupakan bagian dari Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) yang kini bernama Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Namun, untuk tahun pertama, Yet belajar di SGPLB (Persiapan) Padang di Kawasan Limau Manih.

“Tujuan Yet kuliah di SGPLB untuk mengajar di SLB jurusan tunanetra agar bisa menolong mereka yg berkebutuhan khusus, karena Yet pernah merasakan kebutaan. Namun, nasib berkata lain, akhirnya Yet mengajar di sekolah biasa,” ujarnya.

Kembali ke Bandung dan menamatkan SGPLB, Yet kemudian menikah. Mereka – Yet dan suami – dikaruniai tiga orang anak. Putri sulung pun sudah sarjana dan menikah, kini berdomisili dan jadi guru di Kota Malang. Anak kedua, mahasiswa Sekolah Tinggi Penerbangan di Bandung. Sedangkan si bungsu akan tamat SMA tahun ini.

Selama berdomisili di Kota Bandung hingga akhir 1999, Yet aktif sebagai pendidik dengan membuka kegiatan-kegiatan kursus. Pulang ke kampung halaman – Desa Pauah, Kota Pariaman – tahun 2000, Yet melamar dan diterima sebagai guru bantu / honorer.

Tak hanya setelah jadi PNS tahun 2007, selama jadi guru bantu pun Yet sering dilibatkan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Padang Pariaman dalam pembuatan soal-soal ujian untuk try out (TO) murid Kelas VI SD. Selama kegiatan, ia bersama tim dikarantinakan pada suatu tempat supaya soal-soal tidak bocor.

Yetri Kasim bersama rekan-rekan sesama instruktur

Karena berlatar SPGLB yang sarat dengan muatan psikologi, dalam memberikan pembekalan Kurikulum 2013, Yet cendrung menanamkan motivasi dan pencerahan kepada guru-guru dan kepala sekolah peserta. Menurut dia, Kurikulum 2013 menuntut guru-guru menjadi lebih cerdas. Sebab, sangat berbeda dengan kurikulum sebelumnya.

Perempuan yang menamatkan sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Terbuka (PGSD UT) tahun 2013 ini mengakui, belum semua sekolah dan kelas di Kabupaten Padang Pariaman yang menerapkan kurtilas. Di SD 03 Nan Sabaris saja baru Kelas I, III, IV & V yang menerapkan Kurikulum 2013; Kelas II & VI belum.

Yet mengaku sering diundang atas nama pribadi untuk memberikan pembekalan tentang Kurikulum 2013 oleh pihak kecamatan lain, bahkan ke kabupaten lain, tentu saja di luar jam wajib dia, karena mereka tahu dengan Yet saat sama-sama ikut diklat di LPMP.

“Bagi Yet bayaran tidak masalah. Yet hanya ingin berbagi kepada kawan-kawan sesama guru, khususnya tentang Kurikulum 2013, karena banyak yang beranggapan bahwa Kurikulum 2013 ini rumit. Nah, Yet ingin mengubah asumsi itu, tak kenal maka tak sayang,” kata Yetri Kasim.

Yetri Kasim bersama para pemenang LKTI PTK tingkat nasional

Hal yang tak kalah sulit bagi guru-guru dalam penerapan Kurikulum 2013 ini,lanjut dia, adalah masalah penilaian. “Nah, itu yang Yet bahas dalam pembekakan tersebut,” ulasnya sembari mengoreksi agar tidak menyingkat Kurikulum 2013 menjadi kurtilas karena ia kuatir ada yang memplesetkan sebagai kurikulum tidak jelas.

Kemudian, urai Yet, masalah deskripsi dalam rapor siswa juga kerap dianggap sulit. Oleh karena itu, ia menginginkan para guru ini paham bahwa pengisian rapor tidak sesulit yang mereka bayangkan.

“Jadi, di sini Yet pengen berbagi untuk hal itu. Andai saja mereka tahu kuncinya, bagaimana mengisi nilai dan deskripsi, tentu akan sangat menyenangkan, karena kita tidak bercerita indah dalam rapor itu. Kita hanya mendeskripsikan nilai tertinggi dan terendah sesuai dengan perolehan nilai yang ada di daftar nilai kita,” kata Yetri menjelaskan.

Yang jadi masalah bagi guru-guru, apakah daftar nilai mereka punya KD (kompetensi dasar)? Untuk diketahui, daftar nilai Kurikulum 2013 itu sangat jauh berbeda dengan daftar nilai kurikulum sebelumnya.

“Nah, ini yang terkadang membuat Yet risau. Ketika terima rapor, mereka susah mendeskripsikannya karena daftar nilai yang dibuat tidak pakai KD,” papar Yetri Kasim.  (Zakirman Tanjung)

Tidak ada komentar

Gambar tema oleh Leontura. Diberdayakan oleh Blogger.