Masdar Saisa: Masyarakat Sadar Saiyo Sakato

Catatan Zakirman Tanjung


BANYAK pengalaman sangat berkesan yang saya alami ketika melakoni profesi Jurnalism Investigate. Ancaman penbunuhan dan bergelut dengan maut menjadi romantika yang tak terhindarkan.

Waktu itu tahun 1995. Setelah membaca berita yang ditulis seorang rekan wartawan tentang pembukaan lahan di Lereng Gunung Merapi, saya nekat pergi ke Batusangkar untuk konfirmasi kepada Bupati Tanah Datar, Masdar Saisa. Ternyata kantor bupati di Pagaruyuang. Saya pun nyambung naik oplet dari pasar ke Pagaruyung.

Akan tetapi, seorang staf menyebutkan, "Pak Bupati sedang menghadiri acara di Gedung Wanita." Saya pun balik ke Batusangkar. Ternyata bupati sedang pidato.

Selesai pidato, bupati langsung ke luar menuju mobil, saya cegat sembari memperkenalkan diri, lalu bertanya.

”Oo... masalah itu sudah diselesaikan oleh Kabag Pembangunan," jawabnya tanpa menoleh ke saya dan terus melangkah menuju sedan BA 1 E.

Merasa dicuekin, saya ajukan pertanyaan berikutnya, "Sebuah sumber menyebutkan, dalam hal pembukaan lahan itu Anda diduga berkolusi dengan pengusaha, apa benar?"

Mendengar pertanyaan itu, Bupati Masdar Saisa langsung berbalik, menghadap saya, "Apa kamu bilang? Saya ini putra Sepuluh Koto, Mantan Dandim Dumai. Saya pulang kampung untuk membangun, bukan untuk memperkaya diri.... dst-nya."

Suasana pun menjadi tegang dan sangat panas. Dandim ...., Kapolres RP Poernomo Subekti, Kajari ... dan Ketua DPRD Bahar Adam Sori terlihat siap tempur, menunggu perintah bupati.

Namun, walau terlihat emosi, bupati masuk mobil dan pergi. Begitu juga dengan Dandim, Kapolres dan Kajari.

Saat itulah seseorang datang mendekat, memperkenalkan namanya Awaluddin Kahar alias Awkar - wartawan Singgalang dan mengajak saya ke mobil Kijang BA 4 E. Ia memperkenalkan saya kepada Ketua DPRD Tanah Datar, Bahar Adam Sori.

Pak Bahar Adam Sori mengajak kami pergi makan. Di mobil ia menanyakan kampung asal saya. Karena saya tahu latar-belakangnya, maka saya jawab, "Sunua Ulakan, Pak Ketua."

"Haa... sakampuang kito mah," katanya terkesan kaget. Kami pun langsung akrab.

Usai makan, Pak Bahar mengajak saya dan Awkar menghadiri kegiatan bupati membuka perkemahan pramuka di Lapangan Gumarang(?).

Setelah kegiatan selesai, ketika bupati berjalan menuju mobilnya, saya kembali bertanya, "Satu pertanyaan lagi, Pak Bupati ...."

*Apa lagi ini?!!" suasana kembali tegang.

"Apakah ketika Anda lahir dulu orangtua Anda sudah tahu kalau kelak Anda akan jadi bupati?"

"Apa hubungannya?"
"Karena mereka memberi Anda nama Masdar Saisa, Masyarakat Sadar Saiyo Sakato, nama yang cocok untuk bupati, bahkan untuk gubernur ...."

Tawa bupati langsung meledak, diikuti para pejabat yang mendampinginya. Pak Masdar merangkul saya dan memerintahkan Sekda Sultani Wirman memfasilitasi saya ....

**

Meskipun demikian, berita investigasi tentang pembukaan lahan untuk perkebunan di Lereng Gunung Merapi itu tetap saya terbitkan di Surat Kabar Mingguan Canang

Komentar Anda

Lebih baru Lebih lama