Oleh: Siska Eka Putri, S. Pd., Mahasiswa Pasca Sarjana IAIN Batusangkar


Sekolah sebagai suatu institusi, tentunya mempunyai suatu tujuan. Dalam mencapai tujuannya itu, berlaku norma, aturan atau ketentuan yang mengatur hubungan kerja sama antara orang yang satu dengan yang lain. Untuk mencapai tujuan tersebut tidak ada satu pun organisasi  yang berjalan mulus tanpa ada masalah yang dihadapi.

Demikian pula sekolah sebagai suatu organisasi yang tidak luput dari persoalan seperti, kesulitan dana, persoalan pegawai, perbedaan pendapat terhadap kebijaksanaan, kedisiplinan dan masih banyak lagi. Apabila terjadi kesulitan seperti itu maka kepala sekolah diharapkan berperan sebagai orang yang dapat menyelesaikan persoalan tersebut.

Kemampuan dalam mengambil keputusan adalah merupakan syarat utama seorang kepala sekolah untuk dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, efektif dan efisien, sehingga permasalahan dapat diselesaikan dengan bijaksana dan tujuan yang ingin dicapai sesuai dengan harapan. 

Untuk mencapai tujuan tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan karena banyak sekali permasalahan yang terjadi sebelum tujuan yang kita inginkan tersebut tercapai.

Permasalahan yang terjadi di suatu organisasi dapat diselesaikan dengan cara mengambil suatu keputusan.

Selain itu, pengambilan kepututusan merupakan suatu proses menetapkan alternatif yang terbaik yang dilakukan secara komprehensif untuk memecahkan suatu masalah (Engkoswara:104).

Jadi, harus ada keyakinan bahwa suatu permasalahan pasti akan dapat diselesaikan. Salah satunya dengan cara mengambil suatu keputusan. Bahkan pengambilan keputusan penting bagi kepala sekolah karena proses pengambilan keputusan mempunyai peran penting dalam memotivasi, kepemimpinan, komunikasi, koordinasi, dan perubahan organisasi.

Membuat keputusan dan pemecahan masalah merupakan salah satu peranan yang harus dimainkan setiap leader dan manajer, semua fungsi manajemen seperti perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan.

Perubahan situasi dan kondisi yang sangat cepat menjadi faktor yang harus dipertimbangkan dalam manajemen yang mendorong manajer untuk mampu mengimbangi cepatnya perubahan waktu. Kualitas suatu keputusan merupakan cermin dari daya pikir pemimpin.

Salah satu fungsi yang sangat penting dalam kepemimpinan, yaitu pengambilan keputusan, seorang pimpinan sebagian besar waktu, perhatian, maupun pikirannya di pergunakan untuk mengkaji proses pengambilan keputusan. 

Semakin tinggi posisi seorang dalam kepemimpinan organisasi maka pengambilan keputusan menjadi tugas utama yang harus dilaksanakan. Perilaku dan cara pimpinan dalam pola pengambilan keputusan sangat mempengaruhi perilaku dan sikap dari para pengikutnya. Hal ini akan menentukan kinerja organisasi untuk mencapai tujuan.

Jadi,  kemampuan pengambilan keputusan sangat berperan penting dalam memecahkan suatu permasalahan untuk mencapai tujuan.

Kita ketahui bersama bahwa konsekuensi dari tugas pokok memimpin ialah bahwa sebagaian besar waktu dari setiap pemimpin harus dipergunakannya untuk mengambil keputusan. Dapat dikatakan bahwa sukses tidaknya seseorang menjalankan perannya sebagai pemimpin akan sangat tergantung bukan pada keterampilannya melakukan kegiatan-kegiatan operasional akan tetapi dinilai terutama kemampuannya dalam mengambil keputusan (Siagian:38).

Jika demikian, maka salah satu persyaratan atau kepemimpinan yang perlu dipenuhi oleh setiap orang yang menduduki jabatan pimpinan ialah keberanian untuk mengambil keputusan yang cepat, tepat, praktis dan rasional serta memikul tanggung jawab atas akibat dan resiko yang timbul sebagai konsekuensi dari pada keputusan yang diambilnya. 

Dengan demikian, seorang kepala sekolah sebagai pumpinan di sekolah, harus berani dalam mengambil keputusan, karena pada hakekatnya berani adalah merupakan rasa percaya diri yang besar dalam menghadapi bahaya dan kesulitan. 

Jadi, seorang kepala sekolah harus mempunyai rasa percaya diri dalam mengahadapi masalah. Kepala sekolah harus yakin bahwa permasalahan dapat diselesaikan dengan cepat dan benar.

Supaya berhasil dengan baik dalam mengambil keputusan, seorang kepala sekolah perlu terus mengembangkan kemampuannya.

Semakin mampu mengenali masalah yang dihadapi dalam kehidupan ini, maka akan semakin mampu pula ia mengambil suatu keputusan.

Keberhasilan seorang kepala sekolah dalam mengambil keputusan disekolah sangat ditentukan oleh nilai-nilai yang dianut oleh warga sekolah serta tinggi rendahnya keyakinan mereka terhadap kemampuan organisasi dalam mengatasi berbagai masalah yang dihadapi. 

Dengan perkataan lain, apabila personil sekolah merasa yakin terhadap kemampuan sekolah, maka tugas kepala sekolah untuk mengambil keputusan akan lebih mudah. Akan tetapi apabila personil sekolah merasa pesemis, bersikap apatis, maka tugas pengambilan keputusan akan lebih sulit (Wahyudi:43).

Tentunya, kepala sekolah yang efektif adalah kepala sekolah yang sensitif terhadap tindakan organisasional serta dengan sikap yang fleksibel, artinya kepala sekolah peka terhadap masalah-masalah yang terjadi.

Selain itu, dalam pengambilan keputusan kepala sekolah harus menetapkan ukuran solusi yang memuaskan. Setelah masalah telah dianalisis dan ditetapkan, kemudian kepala sekolah harus memutuskan apa yang mendasari suatu solusi harus bisa terima atau tidak.

Sebelum memutuskan kepala sekolah harus teliti berbagai kesulitan di dalam situasi yang ada.

Model atau pendekatan jenis apa pun yang dipergunakan untuk mengambil keputusan harus melibatkan partisipasi anggota organisasi.

Keterlibatan tersebut meliputi seluruh proses pengambilan keputusan dengan demikian anggota merasa dihargai, merasa sulit terlibat sehingga akan mengembangkan prilaku pelaksanaan keputusan (Wahyudi: 43). 

Adapun keputusan yang baik tentunya adalah keputusan yang telah dipilih dari berbagai alternatif yang ada setelah alternatif itu dianalisa dengan matang.

Dalam gaya kepemimpinan partisipatif, seorang kepala sekolah haruslah bersikap terbuka dalam memberikan peluang bagi terselenggaranya komunikasi dua arah serta menaruh perhatian terhadap usaha dan prestasi guru. Kepala sekolah memotivasi dan mendukung kreativitas guru serta melatih guru dalam pengambilan keputusan (Wahyudi: 137). 

Aspek kepemimpinan parsipatif mencakup konsultasi, pengambilan keputusan bersama, pembagian kekuasaan, desentralisasi dan manajemen demokratis.

Kepemimpinan tipe ini dalam mengambil keputusan sangat mementingkan musyawarah, yang mewujudkan pada setiap jenjang dan dalam unit masing-masing. Prinsip partisipasi berhasilnya pemimpin dalam menimbulkan minat, kemauan, dan kesadaran bertanggung jawab pada setiap staf akan meningkatkan partisipasi mereka.

Pemimpin sekolah hendaknya selalu berusaha membangkitkan dan memupuk subur kesadaran setiap stafnya agar mereka merasa dan rela ikut bertanggug jawab, dan selanjutnya secara aktif ikut serta dalam memikirkan dan memecahkan masalah-masalah yang menyangkut perencanaan dan pelaksanaan program pendidikan dan pengajaran. (TJP)