Catatan Zakirman Tanjung
 
SAYA selalu merasa kurang nyaman membaca postingan yang ditulis orang-orang yang saya kenal sebagai intelektual tetapi dengan tata dan logika bahasa belepotan. 

Suatu ketika, saya pernah mempertanyakan komitmen berbahasa seorang yang dikenal sebagai wartawan hebat terkait postingan-postingannya di facebook, "Apakah tulisan-tulisan Anda yang saya baca dalam bentuk buku dan di media-media cetak merupakan hasil editing editor?"

Namun, jawaban oknum wartawan itu sungguh mengagetkan saya, "Oo... kalau untuk buku atau media cetak saya menulis dengan tata bahasa yang baik dan benar."

*** 

Ketika mengikuti Program Penyegaran Redaktur (PPR) di Gedung Dewan Pers, 7 November s/d 10 Desember 1994, saya ingat, Direktur Eksekutif Lembaga Pers Dr Soetomo (LPDS) Jakarta Atmakusumah Astraatmadja pernah bercerita tentang seorang pengusaha yang konsisten berkomunikasi dengan tata bahasa yang baik dan benar. 

"Jangankan ketika menulis surat resmi, sewaktu menulis pesan pada secarik kertas untuk pembantu pun pengusaha itu tetap menggunakan tata bahasa yang baik dan benar," kata Pak Atmakusumah, mantan Redaktur Pelaksana Surat Kabar Harian Indonesia Raya yang dibredel pemerintah tahun 1965. 

*** 

Bertata bahasa yang baik dan benar membutuhkan komitmen  diri dan pembiasaan. Tidak hanya sewaktu menulis naskah resmi dan penting, ketika menulis postingan atau komentar di facebook pun misalnya, hendaklah berusaha konsisten. 

Alhamdulillah... saya sudah mulai menulis semenjak Kelas IV Sekolah Dasar (SD) tahun 1980 berupa pantun, puisi, cerpen, catatan harian atau pemikiran-pemikiran dalam bentuk opini. Sejak saat itu, saya berusaha konsisten menggunakan tata bahasa dengan ejaan yang baik dan benar sebagaimana yang saya pelajari di sekolah dan dari buku-buku cerita yang saya baca. 

Ya, saya memang sudah gemar membaca buku-buku cerita dan surat kabar semenjak Kelas II SD. Buku-buku itu saya peroleh dengan cara meminjam di perpustakaan sekolah atau di mobil pustaka keliling yang datang sekali seminggu. Sedangkan surat kabar saya dapatkan dengan cara menumpang baca atau bekas pembungkus apa saja. 

Ketika membaca, saya tak hanya menikmati jalinan cerita atau menyerap materi tulisan, tetapi sekaligus memperhatikan dan mencermati tata bahasanya seperti penggunaan huruf besar, awalan dan akhiran serta tanda baca. Pengetahuan ini langsung saya terapkan ketika menulis. 

Aplikasi pengetahuan ini saya terapkan secara konsisten dan terus-menerus. Alhasil, Alhamdulillah..., ujung pulpen atau ujung jari saya pun seperti sudah terformat, menulis dengan ejaan dan tata bahasa yang baik dan benar, baik terkait penggunaan huruf besar dan kecil maupun tanda baca. Begitu juga dengan alinia. 

Kata kuncinya adalah pembiasaan. Sistem dan refleksitas dalam diri kita akan terbentuk karena usaha kita melakukan hal-hal secara konsisten, apapun bentuk dan jenisnya. Jika kita melatih dan membiasakan lidah beristighfar ketika kaget, misalnya, maka istighfar itulah terlontar ketika kita sontak kaget meskipun tanpa didorong oleh kesadaran. 

SAHABAT, hidup hanyalah sebatas penguasaan kosa kata dan tanda baca, tak lebih, apapun posisi dan profesi kita.