Catatan Herry Suger *)

RELAWAN merupakan aktor yang berpengaruh dalam setiap pemilihan umum kepala daerah (pilkada) atau presiden (pilpres). Mereka umumnya tidak mempersoalkan waktu dan materi yang mereka habiskan untuk kepentingan memenangkan calon yang didukungnya.Bagi relawan merupakan sebuah kebahagiaan bila calon yang diusungnya bisa memenangkan kontestasi politik ini.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “relawan” merupakan penggalan dari kata sukarelawan yang berarti orang yang melakukan sesuatu tanpa pamrih. Dalam kehidupan sehari-hari banyak kita temukan kelompok massa yang mengatas-namakan dirinya sebagai relawan atau pekerja sosial seperti relawan bencana, relawan kebersihan, dan tidak terkecuali relawan dalam konteks politik.

Dalam pilkada atau pilpres kita temukan banyak kelompok yang menamakan dirinya relawan pada masing-masing pasangan calon (paslon). Mereka adalah kelompok non-partisan, tidak bergabung dalam satu partai politik pengusung kandidat. Mereka umumnya bekerja dalam barisan yang berbeda dengan partai pengusung, namun dengan tujuan yang sama, memenangkan kontestasi. Bentuk kontribusi mereka ternyata tidak hanya sebatas ide, dan tenaga, namun termasuk juga materi atau logistik serta biaya operasional.

Pertanyaannya, apa yang mereka ingin dapatkan?

Sejauh penelusuran yang penulis lakukan, kehadiran mereka umumnya berangkat dari kesadaran dan keinginan untuk ikut memikirkan nasib bangsa atau daerah agar bangkit dan berbenah, berubah men jadi lebih baik, dengan sosok yang mereka yakini mampu mengemudikan roda pemerintahan.

Hal ini merupakan motivasi intrinsik yang luhur.  Meskipun demikian, bukan tidak ada lembaga relawan yang memiliki motif-motif pragmatis seperti popularitas dan pre-investment untuk dapat mendulang fee dan segala benefit sosial-ekonomi pada saat kandidat yang mereka usung memenangkan kontestasi.

Relawan ini, mereka siap mengerahkan segala kemampuan untuk mendulang suara sebanyak-banyaknya bagi kepentingan kandidat. Mereka tersebar hampir di setiap kawasan dan dalam berbagai jenis model, ada sayap perempuan, sayap ulama, sayap pemuda, dan sayap mahasiswa.

Sebagai contoh, Tim Relawan Paslon “X”. Tim Relawan ini dibentuk untuk memenangkan kandidat yang mereka usung yaitu Paslon “X”. Para relawan meyakini Paslon “X” merupakan figur yang mampu mengantarkan bangsa atau daerah menuju masa depan yang lebih baik.

Keberadaan tim relawan tersebut biasanya disahkan langsung oleh tim pemenangan atau bahkan oleh Paslon “X”. Jaringan relawan ini bahkan terbentuk hingga merambah ke berbagai kawasan yang paling terendah sekalipun seperti tingkat rukun warga (RW) dan tetangga (RT) atau nagari dan jorong yang siap memenangkan paslon yang mereka dukung. Inilah dinamika politik yang mewarnai demokrasi.

Tim dari masing-masing paslon kontestasi pilpres atau pilkada ini siap mati-matian membela dan mendukung kandidat nya untuk menduduki kursi orang nomor satu dan nomor dua.

Relawan sejatinya terbentuk atas dasar kesukarelaan dari kalangan aktivis maupun masyarakat biasa. Namun, dalam perjalanannya tentu memerlukan logistik untuk memperkenalkan kandidat yang didukungnya. Sudah selayaknya jika relawan dan partai politik pengusung harus saling berkonsolidasi dalam menentukan program-program yang berimbas kebaikan untuk para kandidat yang mereka usung. 

Kandidat pun selayaknya harus mampu melihat para pendukungnya, termasuk membantu dalam hal pengadaan logistik dan biaya operasional meskipun para relawan benar-benar terbentuk dari kesukarelaan, tanpa mengharapkan sokongan logistik dari kandidat. Jadi, baik kandidat, partai politik pengusung, tim pemenangan maupun relawan saling sinkron dan saling bekerja sama.

Paslon yang cerdas akan mengawal keberadaan relawan dengan baik. Sebab, lantaran tidak merasa terikat secara moril, apalagi materil, boleh jadi para relawan berubah atau mengubah arah dukungan. Banyak kasus di lapangan yang menunjukkan fakta relawan harus berani menghadapi kenyataan bahwa kontribusi mereka pada akhirnya akan menjadi sampah sejarah; tidak dianggap penting atau digunakan hanya pada saat-saat kritis saja, dilirik sebatas kepentingan sesaat, lalu segala bentuk kontribusi mereka akan berlalu bersama angin.

Sebagai contoh, sebutlah misalnya Relawan Paslon “X”. Relawan ini difungsikan untuk kepentingan memenangkan dalam kontestasi pilpres atau pilkada dalam melakukan kampanye popularitas-elektabilitas terhadap masyarakat di akar rumput. Namun, setelah Paslon “X” keluar sebagai pemenang dalam pertarungan pilpres atau pilkada, Paslon “X” tidak lagi bergandengan tangan dengan relawan yang rela mati-matian memenangkan mereka. Dengan kata lain, tidak dianggap lagi. Kondisi ini jelas memukul perasaan para relawan yang sudah bertungkus-lumus mengusung Paslon “X” di akar rumput.

Fenomena “tidak dianggap lagi atau lepas-pakai” seperti ini sebenarnya adalah hal yang lumrah dalam dunia politik. Budaya pragmatis politik memaksa semua pihak untuk mampu berjalan dalam irama kepentingan. Ada yang hari ini dipakai besok ditinggalkan, dan ada yang hari ini terlupakan, lalu besok diberdayakan secara maksimal. Begitu juga, ada yang hari ini lawan, besok menjadi kawan, atau sebaliknya. Tidak ada yang abadi dalam kacamata seorang politisi.

Oleh karena itu, siapa saja yang hari ini bekerja sebagai relawan untuk memenangkan kandidat tertentu; luruskan niat dan bersiaplah menerima keputusan-keputusan apapun yang akan diambil oleh kandidat, termasuk keputusan untuk melupakan kontribusi yang Anda berikan, lalu menjadi sampah sejarah, bahkan tak pelak ada yang berujung sumpah-serapah.

 

*) Wartawan, pemerhati  politik, berdomisili di Kota Pariaman – Sumatra Barat – editor Zakirman Tanjung