HAWA dingin masih menyelimuti suasana yang ada di desa. Embun pagi yang berkilauan terpancar indah di balik dedaunan. Terlihat samar-samar jalanan yang sedikit terhalang kabut. Beberapa manusia sudah siap untuk menjalani aktivitasnya masing-masing. Saut-sautan anak kecil berteriak memanggil teman-temannya untuk bermain. Di sisi rumah tua yang besar nampak seorang pria muda tengah merawat ibunya yang sedang sakit. Padahal dalam waktu dekat ia harus mengejar waktu untuk dapat mengikuti perkuliahan yang ia tekuni di Universitas Andalas.

Dialah Ir H Nasrul Syahrun, pemuda (waktu itu) yang santun dan sungguh berbakti kepada orang tuanya, meskipun harus berkejar dengan waktu karena harus membagi waktu antara mengurus ibu dan belajar. Namun, tidak menyulutkan semangatnya untuk terus mengejar cita-cita dan meraih gelar insinyur.

“Nasrul Syahrun lahir di Limau Puruik – Kecamatan V Koto Timur, Senin 14 Mei 1945 – bertepatan dengan 2 Jumadil Akhir 1364, sosok yang dikenal dengan sifatnya yang santun dan ramah, menjadikan ia disenangi oleh banyak orang. Kesabarannya dalam mengurus ibunya yang sakit selama sepuluh tahun dapat menggambarkan betapa ramah dan santunnya dia kepada orang tuanya,” ujar Syaf C Mato, keponakan Nasrul.

Nasrul memiliki 3 saudara dan ia satu-satunya anak laki-laki di tengah keluarga Siti Baheram dan Sutan Syahrun. Meskipun berasal dari keluarga pedagang besar di Kota Padang, tidak menyebabkan karakter Nasrul menjadi manja. Sebaliknya, ia gigih berusaha menjadi lebih sukses tanpa menghandalkan harta orang tuanya.

Kesuksesan Ir H Nasrul Syahrun dapat dilihat pada masa kepemimpinannya di Kabupaten Padang Pariaman sejak 4 Januari 1994dengan visi misi untuk mewujudkan Padang Pariaman menjadi lebih baik lagi.

Hal ini diungkapkan oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Padang Pariaman Jonpriadi SE MM yang sudah bekerja di Padang Pariaman pada masa pemerintahan Nasrul.

Pak Nasrul Syahrun terkenal dengan sifat kebapakannya yang luar biasa. Dapat dikatakan ia jarang marah kepada stafnya, selalu berusaha menjalin komunikasi dan hubungan baik dengan seluruh staf, memiliki rasa empati yang tinggi menjadikan ia disenangi dan dekat dengan stafnya,” kata Jonpriadi.

Menurut dia, bupati periode 1994 1999 ini pun empati yang tinggi terhadap seluruh jajaran pemerintah daerah dan masyarakat  sehingga dapat menjalin emosional yang baik antara pimpinan dan staf. Ketika hubungan telah baik, maka kedisiplinan akan mudah untuk diterapkan

Semasa memimpin Kabupaten Padang Pariaman, lanjut Jonpriadi, pria empat orang putra-puti ini ini telah melahirkan banyak inovasi untuk kemajuan Padang Pariaman, terutama pada bidang pertanian, di mana hingga saat ini sektor pertanian pada Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menduduki peringkat yang paling tinggi.

Selain ramah dan penuh empati, Pak Nasrul dikenal dengan kedisipilinan yang bagus, juga dalam pelayanan administrasi dan birokrasi terstruktur dengan jelas sehingga  memudahkan stafnya dalam menjalankan pekerjaan dalam melayani masyarakat,” ulas Jonpriadi.


Kenangan mendalam pun diungkapkan H Hanibal SE MM, kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Padang Pariaman. Pada masa awal kepemimimpin Bupati Nasrul Syahrun, Hanibal menjabat Kepala Seksi Penagihan pada Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda).

“Saya termasuk pejabat eselon IV pertama yang dekat dengan Pak Nasrul Syahrun. Hal itu dikarenakan perhatiannya yang sangat besar terhadap peningkatan pendapatan asli daerah (PAD). Oleh karena itu beliau sering memanggil saya ke ruangan kerjanya untuk memberi arahan dan motivasi,” ujar Hanibal.

Setahun kemudian, 1995, Bupati Nasrul Syahrun menugaskan dan mempromosikan Hanibal menjadi Kepala Bagian Ketertiban Umum (Kabag Tibum) yang membawahi urusan Satuan Polisi Pamong Praja, Perizinan dan Pertanahan. “Tugas berat yang beliau embankan kepada saya waktu itu menangani pembebasan lahan untuk pembangunan Bandara Internasional Minangkabau (BIM) di Nagari Katapiang,” kata Hanibal mengenang.

Tidak itu saja. Hanibal mengaku pernah dipanggil Nasrul Syahrun secara khusus. “Saya masih ingat, hal itu karena pemberitaan yang Bung tulis di Surat Kabar Mingguan Canang tentang teguran keras saya kepada pengelola Objek Wisata Malibouw Anai. Akibat berita itu Pak Nas mengingatkan saya supaya tidak terlalu keras tetapi lakukan pendekatan persuasif.”

Dalam menegur, lanjut Hanibal, Bupati Nasrul Syahrun selalu menggunakan bahasa yang lembut dengan nada kebapakan. “Beliau tak pernah marah dengan emosional. Selain itu, Pak Nas sangat perhatian terhadap kesejahteraan aparatur. Tidak hanya staf, seluruh pejabat eselon III, IV dan V beliau beri tunjangan hari raya (THR) menjelang Idul Fitri.”

Kesungguhan Hanibal mendapat perhatian khusus Bupati Nasrul Syahrun. Setahun menjadi Kabag Tibum, Hanibal ditugaskan menjadi Kepala Kantor Pelayanan Terpadu dan Pencatatan Sipil (Kakan Yandu Catpil). “Di sini Pak Nas menugaskan saya untuk melakukan pendataan dan penataan administrasi kependudukan hingga membuahkan penghargaan tertinggi berupa Inovasi Pelayanan Publik Award dari Presiden Republik Indonesia.”


Kenangan senada juga dikisahkan Direktur Jenderal Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri Akmal Malik yang pernah bertugas di Kantor Camat VII Koto Sungai Sariak. Akmal kemudian dipercaya oleh Bupati Nasrul Syahrun sebagai Kepala Sub Seksi pada Seksi Pembangunan Desa. Ia bahkan diberi tugas tambahan menjadi Pejabat Pementara (Pjs) Kepala Desa Barangan yang kini jadi pusat pemerintahan Nagari Lurah Ampalu karena kepala desa (kades) sebelumnya mengundurkan diri karena berbagai masalah. 

Dalam waktu singkat Akmal berhasil menyelesaikan permasalahan dan memfasilitasi pemilihan kades definitif.  "Banyak kenangan saya di kecamatan ini," cetus pria kelahiran Pulau Punjung, Kabupaten Dharmasraya, 16 Maret 1970, ini.

Dinilai sukses mengemban tugas, Bupati Nasrul Syahrun memberinya hadiah melanjutkan pendidikan ke program strata satu (S.1) Manajemen Pembangunan Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) Jakarta, tahun 1996. Selesai S.1, Akmal melanjutkan kiprahnya ke Kantor Gubernur Sumatra Barat di Padang. Namun, tak lama setelahnya, Akmal memperoleh beasiswa Program Magister Perencanaan Kebijakan Publik pada Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE UI), 2000 - 2002.

Karena keramahan dan kedekatannya dengan masyarakat, Bupati Nasrul Syahrun dikenal dengan Bulan Pertolongan. Sapaan ini diberikan oleh Guru Besar / Pimpinan Pesantren Buya H Iskandar Tuanku Mudo kepada Ir H Nasrul Syahrun saat berkunjung ke pesantren di Nagari Lubuk Pandan. Panggilan ini menjadi viral di tengah masyarakat karena setiap kali ada momen bicara di forum resmi namanya selalu disebut sebagai Bulan Pertolongan.

Namun, kini Sang Bulan Penolong ini telah pergi untuk selamanya. Ia wafat di suatu rumah sakit di Kota Bandung, Rabu (14/10/2020) sore kemarin, dalam usia 75 tahun 5 bulan atau 77 tahun 7 bulan 26 hari. Akan tetapi, jasa-jasanya akan tetap diingat dan dikenang, namanya selalu harum di Kabupaten Padang Pariaman. (R/Zakirman Tanjung)