Subscribe Us

header ads

Benarkah Sumatera Barat Negeri Beradat?

Catatan Zakirman Tanjung *)

Zakirman Tanjung

PERTANYAAN sebagaimana tertera pada judul di atas sebenarnya sudah lama mengendap dalam pikiran penulis. Sejak kecil penulis dan anak-anak lain yang lahir dan dibesarkan di Sumatera Barat dengan etnis Minangkabau sudah diajarkan dan dididik agar hidup beradat dan berakidah. Ajaran itu termaktub dalam untaian kalimat: adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah.

Akan tetapi, dalam realitas hidup dan pergaulan kemudian, secara langsung atau tidak kepada kami (anak-anak Minang) juga diajarkan perilaku hidup cerdik – atau lebih tegasnya culas alias licik. Ajaran tersebut antara lain taimpik nak di ateh, takuruang nak di lua; titian bi(n)aso lapuak, janji bi)n)aso mungkia – terhimpit ingin di atas, terkurang ingin di luar; jembatan bi(n)asa lapuk, janji bi(n)asa mungkir. Kata binasa tertukar jadi biasa.

Sebenarnya sangat banyak untaian kalimat yang berisi tatanan dan tuntunan dalam khasanah adat dan budaya Minangkabau. Hanya saja tuntunan itu terpinggirkan oleh realitas yang terpapar dan menjadi tontonan. Dalam hal ini semakin banyak saja oknum pemimpin, baik di sektor formal maupun informal, yang berperilaku tidak sesuai dengan kedudukan dan ucapan mereka.

Sifat-sifat demikian sebenarnya sudah diingatkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam Al-Qur'an surah Ash-Shaff ayat 2-3: Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan

Kembali ke pertanyaan awal: Benarkah Sumatera Barat negeri beradat? Kalau pertanyaan ini diajukan kepada orang Minang, baik yang bermukim di ranah maupun di perantauan, mereka tentu akan menjawab dengan spontan dan tegas: benar! Namun, dalam realitas kehidupan sehari-hari mereka, benarkah demikian?

Untuk menyebut beberapa contoh, bisa kita perhatikan dalam realitas hidup sehari-hari. Orang Minang umumnya memiliki karakter pantang kalah. Jangankan kalah, draw saja mereka ogah. Selain itu, mereka relatif tidak penyabar. Coba perhatikan sikap pengemudi di jalan raya, di Sumatera Barat-lah pengendara, baik mobil maupun sepeda motor, yang terkesan kurang menghargai keselamatan dan nyawa sesama manusia. 

Tidak usah jauh-jauh mengambil perbandingan ke luar negeri, di kota-kota besar lain di Indonesia saja tertib berlalu-lintas sudah sangat baik. Tidak sebagaimana di kota-kota di Sumbar, di kota-kota lain itu kita tidak terlalu cemas ketika menyeberang jalan raya – sebab pengendara di sana umumnya sangat menghargai nyawa manusia. Anehnya, para kepala daerah di Sumbar bangga pula menerima Wahana Tata Nugraha – entah pembinaan apa yang telah mereka lakukan untuk menciptakan tertib berlalulintas.

Masih di jalan raya sebagai etalase aktivitas mobilitas manusia, di Sumbar-lah kita menyaksikan pengemudi yang berperilaku seenak udel mereka. Antara lain berhenti atau parkir sembarangan tanpa memperhatikan rambu-rambu atau kondisi jalanan. Pengendara di Sumbar umumnya paling tidak suka didahului oleh kendaraan lain. Manakala ada yang hendak mendahului, dia bukan memperlambat laju melainkan ikut menekan pedal gas.

Perilaku culas atau cerdik-buruk ini – tak ayal – terbawa-bawa dalam berbagai aspek kehidupan mereka yang lain. Pasca gempabumi 7,9 Skala Richter 30 September 2009 misalnya, bukan justru tersadar oleh teguran Allah yang Mahakuasa agar mengubah perilaku menjadi baik atau lebih baik, melainkan banyak yang berubah bobrok atau lebih bobrok. Saat itu yang parah bukan hanya kerusakan fisik, melainkan kerusakan mental. Faktanya, sangat banyak orang yang berebut bantuan meskipun tidak terlalu membutuhkan.

Orang Minang umumnya akan sangat terhina jika dikatakan miskin. Oleh karena itu mereka berusaha menutupi kekurangan dengan berbagai cara. Mereka akan menolak tawaran makan meski sesungguhnya sedang lapar. Namun, jika ada program bantuan dari pemerintah, mereka takkan malu-malu mengaku miskin sehingga mengembat jatah orang yang benar-benar miskin. Akibatnya angka kemiskinan terus bertambah, termasuk miskin akal-akalan.

Menyikapi fenomena ini, tahun 2007 penulis sudah mengemukakan pemikiran melalui laporan jurnalistik pada sebuah surat kabar. Pemikiran itu adalah usulan kepada pemerintah daerah untuk menciptakan stiker yang ditempelkan pada pintu depan bagian luar rumahtangga-rumahtangga miskin. Stiker itu berisi tulisan: Rumah Keluarga Miskin – Ya Allah, jika keluarga ini benar-benar miskin, sejahterakanlah mereka. Namun, jika mereka pura-pura miskin, kami sadar azabMu sangat pedih. Sayangnya, pemikiran yang penulis rilis pasca kedatangan Presiden Susilo Bambang Bambang Yudhoyono guna mencanangkan Gerakan Pengentasan Kemiskinan di halaman RSUD Padang Pariaman – Paritmalintang, 26 September 2006, itu tidak mendapat respons bahkan hingga kini.

Benarkah Sumatera Barat negeri beradat? Entahlah! Penulis jadi ingat kenangan masa kecil di pedalaman Kramatjati – Jakarta tahun 1975 s/d 1976. Saat itu teman-teman sepermainan sering meledek dan mengejek dengan lontaran Padang bengkok yang saat itu tidak penulis pahami maksudnya. Kemudian, setelah remaja, baru penulis mengerti kalau perantau asal Sumbar di mana-mana cendrung cerdik dan licik. Bodoh mereka hanya sehari, selanjutnya akan mampu mengakali.

Dalam pergaulan sosial, kita memiliki kecendrungan bersifat munafik. Contohnya menyikapi undangan resepsi pernikahan. Jika tidak mendapat undangan, sewaktu bertemu dengan orang yang punya hajat setelah resepsi mereka akan mengomeli. Sebaliknya, jika menerima undangan, mereka akan mengomel juga: Ah, baru beberapa bulan lalu mereka mengundang, sekarang mengundang lagi.  Atau: Ah, banyak benar undangan resepsi minggu ini, mana tanggal tua lagi.

Masyarakat Sumbar yang menyebut diri sebagai etnis paling beradab sudah selayaknya mengintrospeksi diri, terutama para pemimpin mereka: benarkah mereka orang-orang yang beradat (dan beragama) dalam realitas sehari-hari? Jangan sampai filosofi mulia yang mereka agung-agungkan berubah makna. Contohnya: Adat basandi sorak, sorak basandi kitobuliah – syara’ mangato adat mamakai menjadi syara’ lah bak kato adat.

Selain itu, ada realitas plesetan yang cukup menggelitik tentang kepanjangan Sumbar: semua urusan mulanya beres akhirnya rumit. Supaya urusan tidak rumit, gunakan plesetan berikutnya: semua urusan mesti bayar asal rahasiakan. Bagaimana calon investor berminat menanamkan investasi di daerah ini jika urusan perizinan yang mereka butuhkan dilayani dengan cara berbelit-belit?

*) Penulis adalah rakyat jelata, bukan bawahan atau atasan siapa²

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Benarkah Sumbar Negri Beradat ?
    Dalam Tatanan adat Minang kabau telah di Bunyikan Sarak Basandi Sarak kitabullah.
    Itu Benar, Tapi Penulis juga harus Ingat Bahwa Di Tebu yg sebatang juga Ada Ruas nya busuk. Arti nya Tidak semua nya bagus Dan juga tidak semua nya jelek.
    Saya Rasa Apa yg Penulis tulis ini juga ada terjadi di daerah Lain.

    BalasHapus