Sikabaluan Canangnews,Melihat kondisi cuaca yang semakin tidak beraturan terlebih pada saat angin kencang membuat gelombang air laut kian mengganas pada akhir tahun lebih lebih pada musim kepiting.


Hal tersebut tampak terlihat jelas di bibir pantai kuburan Sikabaluan yang menjadi imbas dari pengikisan abrasi yang membuat kuburan ambruk bahkan di Bawak oleh gelombang arus laut yang begitu kencang.

Seperti yang terjadi pada bulan yang lalu dimana kepala desa muara Sikabaluan melakukan peninjauan pasca gelombang besar sehingga timbul ide yang menarik untuk mencarikan solusi tepat dalam penanganannya.

Pada saat itulah banyak pusara keluarga tercinta yang ambruk bahkan terbawa arus laut yang sangat kencang sementara dari tahun ke tahun kenangan dapat teringatkan melalui bingkai meskipun dalam bentuk pusara.

Solusi yang terbaik pertama menurut tinjauan Canangnews dilapangan bahwa perlu bantuan pemerintah dalam bentuk usul penambahan talut penahan abrasi pantai  untuk jangka panjang serta teratur susunannya sehingga pada saat musim gelombang tidak terjadi abrasi.

"Memang sudah ada grip pemecah ombak terpasang di pantai muara Sikabaluan akan tetapi hal tersebut belum bisa menjamin untuk memberikan penahanan abrasi yang kian meningkat jumlah hantaman ombaknya" ungkap salah seorang warga masyarakat nang-nang RT yang sedang bersantai dipantai Senin 10/8/20.

Dilanjutkannya bahwa pemasangannya batu grip yang tampak dimata karena rendah sehingga masih dikhawatirkan akan menerjang kembali bibir pantai muara Sikabaluan pada saat Gloro atau angin kencang disertai gelombang besar, sebutnya.

Sementara jl,melihat jika hal tersebut tidak direspon baik oleh Pemda setempat maka kuburan akan habis dikikis oleh abrasi pantai bahkan akan masuki wilayah rumah warga jika tidak ditanggapi dengan cepat.

Pada akhirnya warga berharap Pemda Mentawai dapat kembali melirik pantai sikabaluan dengan mendukung untuk melaksanakan pemasangan batu penahan abrasi untuk kualitas serta jangka panjang.(JS)