Catatan Bagindo Yohanes Wempi

SETIAP daerah di Minangkabau memiliki sate khasnya masing-masing. Namun, yang terkenal hanya dua, yaitu Sate Danguang-danguang dengan kuah agak sedikit manis. Berikutnya Sate Ajo Piaman dengan kuah agak pedas.

Kedua jenis sate ini sudah menyebar ke pelosok nusantara. Akan tetapi Sate Ajo Piaman, jika berada di luar Minang, selalu dibuat nama / merek Sate Padang. Mayoritas, jika ditemukan sate Padang di luar Minang, dapat dipastikan mereka memiliki latar belakang pernah mendapatkan resep bumbu dan cara mengolahnya dari orang Piaman. Begitulah dengan ranah Minang yang terkenal dengan Sate Padang-nya.

Sate Ajo Piaman memiliki citarasa asli agak pedas, warna kuahnya bisa bermacam-macam, tergantuang bumbunya, rata-rata kuah sate Ajo Piaman  berwarna merah dan ada juga kuahnya berwarna cokelat, tetapi selalu pedas rasanya. Silahkan coba nanti.

Sate Ajo Piaman merupakan makanan khas yang perlu dilestarikan dan jika perlu dipatenkan. Jika para penikmat kuliner bisa menilai rasa, bisa jadi menurut penulis sate Ajo Piaman merupakan makanan terenak di dunia setelah rendang. Namun, untuk menguji sate itu belum pernah pemerintah daerah lakukan atau menyelengarakan perlombaan rasa Sate Piaman ini dengan membandingkan sate-sate yang lain di nusantara.

Namun, Sate Ajo Piaman sudah menjadi kuliner khas yang bisa menumbuhkan perekonomian / menambah pendapatan para penjual di mana pun berada. Sate Ajo Piaman saatnya diberikan perhatian khusus oleh pemerintah kabupaten atau propinsi, di samping perlu mematenkan rasa sate tersebut. Selain itu, pemerintah daerah perlu juga melakukan kegiatan untuk menaikan rating agar Sate Ajo Piaman menjadi sate dengan ciri khas urang awak.

Sekarang, penulis lihat Sate Ajo Piaman hadir dikarenakan para pedagangnya kreatif dan berdagang sate Ajo Piaman juga sebagai sumber pendapatan istimewa. Para penjual sate ini berjualan bermacam-macam cara.  Ada yang berjualan pakai gerobak dorong keliling komplek menjajakannya, ada yang pakai sepeda motor, satenya berbonceng di belakang, ada yang sudah memiliki tempat ekslusif dan bagus.  Sayangnya, tidak ada sentuhan pemerintah.

Mayoritas pedagang Sate Ajo Piaman banyak yang pakai gerobak, menempel di tempat keramaian seperti di trotoar jalan, di depan toko yang sudah tutup atau di persimpangan jalan yang ada tanah kosong. Menurut penulis, sudah saatnya pemerintah daerah melakukan pembinaan dan pendampingan khusus sehingga Sate Ajo Piaman ini menjadi simbol kuliner sate paling enak di dunia.

Jika diberi tempat dalam kebijakan, seperti pendampingan dan modal serta penanganan yang istimewa, bisa jadi Sate Ajo Piaman mampu menyaingi keterkenalan Rendang Minang yang sudah mendunia. Dengan demikian, jika para wisatawan melancong ke Minangkabau, mereka akan memesan Sate Ajo Piaman, fi samping mereka selalu membungkus Rendang Minang untuk dibawa kembali ke kampungnya sebagai ole-oleh khas Ranah Minang. [*]