Subscribe Us

header ads

Penguat Pendidikan di Masa New Normal


Oleh : Siska Eka Putri, Mahasiswa Pasca Sarjana IAIN Batusangkar



Berbagai tanggapan pro dan kontra dalam wacana kebijakan pemerintah lndonesia dibidang pendidikan dapat kita baca dan simak di media mainstream dan media sosial akhir-akhir ini. Aktivitas belajar kurang lebih tiga bulan belakangan ini dilakukan dengan moda pembelajaran daring/luring di rumah.

Pada saat penerapan new normal siswa harus sigap dalam persiapan implementasi new normal dengan selalu waspada dan taat terhadap kebijakan protokol kesehatan dari pemerintah.

Mau tidak mau siswa harus beradaptasi dalam menghadapi new normal. Mereka harus mempersiapkan fisik dan mental dalam menghadapi masa ini. Kita juga bisa belajar dari protokol kesehatan berbagai negara yang diperkirakan sesuai untuk diimplementasikan seperti mencuci tangan dan terbiasa memakai masker saat di sekolah.

Area sekolah juga wajib melakukan protokol kesehatan. Selain kebersihan, pemeriksaan kesehatan juga perlu diperhatikan untuk setiap siswa. Selain itu sterilisasi area juga wajib dilakukan dengan penyemprotan disinfektan secara rutin.

Bila kita lihat kondisi pendidikan 3 bulan terakir disekolah, kebanyakan sekolah masih belum siap menerapkan protokol covid -19, antara lain :

1) Sekolah belum memiliki panduan pembelajaran daring dan luring yang mengatur tentang perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi serta manajemen system pembelajaran daring dan luring.

2) Sekolah memiliki keterbatasan waktu/ anggaran untuk menyiapkan panduan dan SOP pembelajaran daring dan luring, sehingga adanya keragaman penggunaan aplikasi pendukung dalam pembelajaran daring dan luring, WA, google classroom, google meet, youtube dan zoom,

3) Masih banyak guru yang mengeluh tentang fasilitas dan biaya pembelajaran daring dan luring, terlebih guru swasta, guru non PNS,

4) Rendahnya penguasaan dan kreatifitas guru dalam penggunaan IT, terlebih guru usia lanjut, hal ini dipengaruhi oleh basis pendidikan ,

5) Adanya kesenjangan ketersediaan infrastruktur TI (sarana penunjang pembelajaran daring/luring) disekolah,

6) Minimnya interaksi guru dengan siswa, sehingga tidak bisa mengntrol perkembangan kognitif, efektif, dan psikomotorik siswa secara komprehensif dalam pendidikan agama lslam.

Sebutan Era New Normal atau zaman Normal Baru adalah suatu keadaan di mana manusia memasuki kehidupan normal, namun keadaannya berbeda dengan kehidupan normal pada masa sebelumnya. Era Normal Baru yang dijalani saat ini secara kontekstual berkaitan erat dengan adanya dampak penuluran wabah Covid 19.

Untuk itu, sekolah perlu penguatan pendidikan pada masa transisi tahun ajaran baru disekolah masa new normal antara lain dengan :

1) Penyaiapan kebijakan mutu, panduan, SOP pembelajaran tatap muka dan daring, serta sarana lainnya,

2) Penyiapan kompetensi guru dalam penguasaan IT melalui pelatihan pada organisasi MGMP/KKG, dan pelatihan yang diselenggarakan oleh lembaga / perseorangan,

3) Perlu intervensi kepala daerah untuk melakukan kerja sama kemitraan dengan berbagai lembaga, perseorangan dalam menyiapkan infrastruktur system pembelajaran berbasis IT, media, pendekatan dan metode pembelajaran,

4) Membangun jejaring/ komunitas agar dapat berbagi pengalaman dalam rencana, pengembangan, implementasi dan evaluasi pembelajaran tatap muka during/luring,

5) Menjalin komunikasi dan melakukan edukasi terhadap peran orang tua dalam pelaksanaan pendidikan agama lslam dirumah.

Adapun penerapan new normal di sekolah perlu pengaturan jarak antar siswa yaitu lebih dari satu meter atau diterapkannya physical distancing baik pada saat  antri masuk pekarangan sekolah atau kelas, maupun pada saat kegiatan pembelajaran.

Pemeriksaan kesehatan kepada setiap pelajar yang kan masuk ke dalam lingkungan sekolah juga perlu di lakukan. Apabila didapatkan siswa ada yang demam, batuk, flu dan saki kepala dilarang mengikuti aktifitas pembelajaran secara langsung, dilakukan penjadwalan ketat untuk mengindari sekolah terlalu ramai dengan mengatur supaya waktu beratatap muka secara langsung dilakukan dengan seminimal mungkin.
Kita semua belum tahu, apakah keputusan pemerintah untuk menerapkan new normal dibidang pendidikan dapat terealisasi dengan efektif, atau malah mengakibatkan wabah menyebar karena resiko dapat terjadi pada setiap individu.

Sepertinya perlu diadakan simulasi new normal dibidang pendidikan sebelum hal tersebut diterapkan secara massal. Simulasi tersebut juga perlu dilakukan secara eksklusif mengingat lembaga pendidikan memiliki karakteristik yang unik.  Dengan demikian resiko dan efektifitas kebijakan dapat diukur dan dievaluasi dengan baik.

Posting Komentar

0 Komentar