Oleh Bagindo Yohanes Wempi
MENTERI Agama RI Fachrul Razi telah mengumumkan, Idul Fitri 1441 H jatuh pada Ahaf 24 Mei 2020. Hal ini berdasarkan hasil pantauan tim Kementerian Agama (Kemenag) RI pada 80 titik di 34 provinsi di Indonesia yang tidak melihat hilal, Jumat sore. Artinya, 1 Syawal 1441 H belum masuk pada Sabtu (23/5).

Maka sudah dipastikan hari Sabtu ini yang mengikut pemerintah masih melanjutkan ibadah puasa. Penulis mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriyah. 

Saat ini menikmati hari lebaran Ied, penulis istilahkan "Barayo", sangat berbeda dengan Hari Raya Idul Fitri tahun-tahun sebelumnya. Meski demikian, tidak mengubah prinsip-prinsip pelaksanaan ritual ibadah yang diatur dalam Al-Qur'an dan Hadist Nabi. Perbedaan ini terjadi dikarenakan warga dunia, Indonesia dan terkhusus Sumatera Barat dalam keadaan terkena wabah covid-19.

Di antara perbedaan yang mendasar berdasarkan fatwa MUI dan aturan pemerintah adalah pelaksanaan shalat Ied dilaksanakan berjamaah di rumah masing-masing jika daerah kita berada pada zona merah covid-19. Hal ini tercermin juga berdasarkan berita online bahwa di Makkah pun shalat berjamaah di masjid pun ditiadakan.

Namun, jika daerah tempat kita tinggal tidak ada penularaan virus corona (zona hijau) diperbolehkan shalat Ied di surau, mushala, masjid atau tanah lapang dengan mengacu standar protokoler covid-19, di antarannya adalah jamaah shalat harus warga setempat yang diketahui pengurus, membawa sajadah dari rumah,  pengurus menyediakan alat cek suhu dan aturan standar protokoler lainnya yang penulis juga tidak hapal.

Setelah pelaksanaan ritual ibadah maka masyarakat biasanya barayo dengan pola aktivitas sosial budaya seperti  di Ranah Minang bagi para menantu perempuan akan pergi bersilaturahim ke rumah mertua setelah shalat dilaksanakan dengan rombongan keluarga. 

Nah barayo budaya seperti ini untuk sementara ditiadakan dahulu. Bagi menantu ingin bersilaturahim dengan mertua dipakai saja alat komunikasi canggih sekarang dengan aplikasi zoom, video call dengan WA, telpon dan lainnya. Dengan demikian, esensial bersilaturahim demi maaf-maafan bisa juga dilakukan.

Begitu juga kepada kita yang suka barayo mengunjungi tempat wisata dengan memakai fasiltas seperti mobil baru, pakaian baru, pernak pernik baru. Untuk lebaran Minggu besok jangan dilakukan. 

Jika diperlukan jangan kita beli-beli hal baru yang mengundang kita melakukan interaksi dengan banyak orang, baik di pasar ketika pengadaan, maupun memakainya, untuk menghindari terjadinya penularan covid-19.

Kegiatan berkumpul-kumpul banyak orang di zona merah covid-19 jangan dilakukan, seperti masyarakat terkhusus para pemuda melakukan kegiatan acara halal bi halal dengan mengundang musik gambus atau orgen tunggal di kampung. Sekarang saja pemerintah melarang di zona merah takbir keliling umat, kalaupun mau adakan takbir maka lakukanlah di rumah masing-masing, boleh pakai pengeras suara.

Barayo di tahun 1441 H ini memang berbeda agar warga terhindar dari penyebaran virus corona. Barayo tahun ini merupakan budaya barayo model baru yang perlu dinikmati agar kegembiraan dan kebahagiaan di saat fitri ini tetap ada. Demi menghilangkan virus corona di dunia, terkhusus di Sumbar, maka mari sama-sama kita ambil hikmahnya. Jangan bersedih walaupun kondisi kita memang sedih karena tidak bisa barayo seperti dahulu. Sebab, korban meninggal terkena covid-19 sudah banyak.

Tapi demi hilang dan terputusnya virus corona ini maka urang Minang buat budaya barayo seperti yang diatur oleh satagas protokol covid-19. Mari tetap di rumah, patuhi PSBB, insyaa Allah tahun depan barayo caro lamo mudah-mudahan dilaksanakan baliak. [*]