Catatan Bagindo Yohanes Wempi

AHAD lalu penulis pulang kampung ke Koto Tinggi, melihat orangtua dan mande. Seperti biasa, ketika bertemu orangtua maupun mande, penulis selalu bertanya-tanya kondisi dan keadaan kampung. Bisa macam-macam isi pertanyan atau diskusinya.

Namun, pertanyaan atau diskusi Ahad lalu itu sudah pasti mengarah pada keadaan kehidupan akibat virus corona. Terkadang para mande itu sudah menjadi ahli corona virus desease (covid)-19 pula, bahkan lebih ahli dari dokter. Begitu cepatnya informasi tentang virus corona ini.

Dari sekian diskusi, ada satu yang menarik, yaitu kondisi jual-beli lapiak (tikar). Mereka menyebut harga tikar anyaman semakin murah, malah tidak laku. Mande (saudara perempuan ibu / bapak - red) punya pekerjaan menganyam lapiak untuk menambah penghasilan setelah bertani. 

Mande bertanya, "Ba'a nan ka rancak lai ko, Yuang, lai ka makan juo wak ko? Lapiak ndak laku do!"

Tanpa pikir panjang penulis menjawab, "Kondisi kini memang serba susah, orang-orang lebih banyak bertahan tidak membeli selain bahan pangan karena khawatir masa pandemi virus corona akan lama." 

Mande menanggapi, "Ba'a lai tu? Bisa mati awak ndak makan...." 

Jawab penulis "manga lo ka mati? Kan ado Allah. Nan Mahakayo mah nan mengatur rizki."

Pertanyan-pertanyan, cerita-cerita atau isi diskusi seperti di atas akan terjadi di mana-mana  terutama dalam kondisi daerah Sumatera Barat dan Indonesia yang mendapat musibah serangan virus corona yang tidak menentu ini.

Oleh karena itu, sekarang sudah waktunya kita semua berjuang dan bertahan menghadapi virus corona ini. Bagi masyarakat kampung yang bertani atau berdagang, sudah saatnya melakukan perubahan pola untuk bisa bertahan dan mendapatkan uang.
 
Para petani di kampung yang sekarang padinya masih hijau, satu bulan lagi akan panen. Andaikan nanti panen  maka sebagian padinya ditimbun di rumah untuk persiapan / cadangan beras selama krisis virus corona ini terjadi.

Selain itu, para petani mulailah menanam buah dan sayur seperti tomat, cabai–cabai, bawang, kunyit dan lainnya. Hasilnya jangan dijual semua, tetapi dicadangkan untuk dikosumsi sendiri bersama keluarga. Sebab, sayur-mayur mengandung vitamin tinggi untuk kesehatan tubuh.

Sawah, walaupun ditanami padi, mulailah membuat kolam ikan di pinggir petak sawah itu. Walaupun tidak diisi benih ikan, setidaknya ikan-ikan liar seperti puyu dan rutiang (gabus) akan bisa datang sendiri. Namun, tentu lebih bagus dimasukkan bibit ikan ke dalamannya seperti gurami, lele atau ikan nila yang mudah berkembang-biak.

Di rumah mande punya ternak ayam dan itik. Penulis sampaikan bahwa ayam dan itik yang ada jangan dijual, telurnya dimakan saja bersama anak-anak, keluarga. Jika dibutuhkan, ayam dan itik tersebut yang digulai dan digoreng untuk memenuhi kebutuhan agar tidak pergi ke pasar untuk menghindari interaksi dengan orang luar.

Jika ada lahan kosong di depan rumah saatnya ditanami bibit ubi, pisang, keladi dan tanaman produktif lainnya yang bisa dimakan. Andaikan di dalam parak ada tanaman di atas jangan dijual tapi dijadikan bahan makanan untuk bertahan hidup.

Tinggal di kampung, jika berpandai-pandai, masih ada cara kreatif yang bisa dilakukan untuk bertahan dalam kondisi semua sektor terpuruk dan serba keterbatasan ini. Masyarakat harus berpandai-pandai memanfaatkan potensi yang ada di sekitarnya dengan arif bijaksana.

Untuk melengkapi tulisan ini penulis mengutip juga pemikiran Dahlan Iskan bahwa masyarakat harus mengubah pola pikir menghadapi situasi pandemi virus corona ini.  Masyarakat yang hidup di kota, mulailah tanam sayur di pot-pot.  Jangan tanam bunga.

Sudah waktunya move on, banting stir. Yang jualan sayur berhentilah ragu-ragu. Mulailah berjualan dengan cara baru yang lebih cocok dengan zaman virus. Karena ibu-ibu tidak mau lagi ke pasar, Anda siasati dengan jadi pasar keliling.

Tukang-tukang cukur, belilah alat pelindung diri (APD). Promosikan gaya cukur baru Anda dengan berpakaian lengkap APD. Minggu-minggu ini rambut bapak-bapak sudah pada panjang. Perlu kreatifitas yang mendatangkan uang.

Bikinlah kios cukur di tempat terbuka. Di bawah pohon misalnya. Dengan pakaian APD, Anda mungkin kepanasan, berpeluh, tetapi bapak-bapak akan lebih senang dan merasa nyaman daripada bercukur di ruang salon ber-AC yang mencurigakan. 

Pedagang asongan, kelilinglah membawa barang yang diperlukan saat ini: odol, sikat gigi, sabun, sanitasi dan sebangsanya. Anda bisa menggantikan Indomaret dan Alfamart, barang tentu menjualnya dengan memakai APD lengkap.

Pelayan-pelayan restoran, bersatulah. Bikinlah usaha layanan kirim makanan, sayur, menu-menu makan lainnya. Buatlah paguyuban di setiap sektor hunian. Saatnya kini kalian jadi pengusaha: ada tim yang masak, ada tim yang posting di instagram, ada tim yang antar makanan.
 
Sekarang juga mulailah hidup gembira, tetapi tetap patuh pada arahan menghadapi virus corona. Meski demikian, yakinlah segala yang terjadi itu adalah kehendak Allah Yang Mahakuasa. Selaku hambaNya, kita hanya menjalani takdir yang ada dengan selalu ber-doa, ber-usaha, ber-ibadah dan tawakal (duit).

Berikut penulis kutipkan prinsip hidup sehat dari orang-orang hebat, termasuk di saat sakit hati, risau galau dan sejenisnya. ”Orang gembira tidak bisa khawatir. Orang khawatir tidak bisa gembira”. Maka, marilah selalu optimis bahwa badai virus corona akan berlalu, kondisi akan kembali normal. [*]