Tanaman Jagung, Pengentasan Kemiskinan



Catatan, Bagindo Yohanes Wempi

MASYARAKAT  mengenal geografis wilayah Padang Pariaman utara yaitu Gasan, Aur Malintang, Sungai Geringging, Sungai Lima, V Koto Timur dengan kondisi tanah perbukitan atau terdapat tebing-tebing curam dengan persentasinya lebih kurang 73,8%.

Kondisi daerah yang tanahnya perbukitan ini sangat sulit untuk diolah disektor pertanian agar mendapatkan nilai ekonomis. Rata-rata tanah didaerah ini banyak ditanami pepohonan tinggi seperti pohon kelapa, pohon durian, pohon pinang, tanaman kulit manis dan tanaman lainnya.

Namun keadaan seperti diatas saat ini tidak lagi terjadi, sekarang sudah ada perubahan, masyarakat tidak lagi menanam pohon tinggi seperti selama ini yang masyarakat kenal. Alhamdulillah penulis melihat masyarakat didaerah utara Padang Pariaman sudah mulai mengembangkan tanaman jagung unggul  didaerah perbukitan tersebut.

Diawal bulan Oktober penulis bersilaturahim dengan tokoh pemuka masyarakat di daerah Malai V Suku, serta Aur Malintang. Dalam perjalanan kesana terlihat didaerah ini semua bukit-bukit yang dahulu ditumbuhi semak belukar, banyak hilallang, batang sikaduduak, dan tanaman lainnya sudah beralih menjadi tanaman jagung untuk pakan ternak.

Sepanjang mata memandang ditemukan tanaman jagung menghiasi tanah dilereng tersebut, walaupun kemiringan terjal, masyarakat tetap menanam dengan semangat. Jika tidak ada pohon kelapa, maka seluruh bukit-bukit tersebut sudah menjadi hamparan tanaman jagung.

Sekarang pertanyannya, dengan sudah hampir  meratanya tanaman jagung ini, apakah Pemerintah Daerah Padang Pariaman sudah hadir untuk memprogram para petani lebih produktif lagi. Jawabannya, dari mahota dengan tokoh setempat mengatakan bahwa penanaman jagung ini hanya inisiatif pribadi dan akhirnya banyak yang ikut-ikutan menanam, dan termasuk masyarakat.

Komoditi jagung di Indonesia termasuk komoditi yang masih Impor untuk mencukupi ketersediaanya dimasyarakat. Jika nilai tukar Dollar USA tinggi dari nilai Rupiah maka peternak akan menjerit karena harga jagung atau harga pakan sangat mahal dan peternak merugi. Terkadang sudah mahal, jagungnya pun tidak ada dipasaran.

Dengan adanya geliat masyarakat menanam jagung ini maka idealnya Pemerintah Daerah harus cepat tanggap, Pemerintah secepatnya mempersiapkan regulasi, bantuan pembinaan, pemberian anggaran daerah (APBD) yang cukup agar petani jagung ini bisa makmur dan seumur-umur tetap bertanam jagung.

Terkadang selama ini yang terjadi, ketika Pemerintah tidak hadir melindungi petani jagung dan tanaman lain. Maka sangat mudah dihancurkan oleh tengkulak-tengkulak atau mafia pedagang jagung yang hanya menguntungkan diri sendiri.  Pada akhirnya bertanam jagung ini hanya semusim, atau bahasa Piamannya huru-huruan se, angek-angek ciriek ayam se.

Pemerintah Daerah melalui dinas terkait harus secepatnya membetuk kelompok petani tanaman jagung sebagai syarat bantuan bisa didapat. Pemerintah harus menyiapkan tenaga penyuluh terampil bermasyarakat, Pemerintah Daerah harus memasok bibit unggul yang hasil produksi bisan meningkat.

Jika memungkinkan Pemerintah membuat pabrik sendiri pengolah jagung agar keluarannya tidak bahan mentah tapi sudah produk jadi siap pasar. dan meningkatkan harga jual kekonsumen.

Pemerintah bersama Nagari-Nagari harus memberikan konsep pemberdayaan BUMNag didaerah kawasan jagung ini. Agar BUMNag didorong membuat salah satu unit usaha dibidang tanaman jagung seperti penyedian bibit, pupuk, obat-obatan. dan BUMNag bisa juga sebagai wadah pembeli hasil tanaman jagung tersebut lalu dilempar kelur daerah lain.

Dengan hadirnya Pemerintah Daerah di wilayah utara Padang Pariaman dalam rangka mengelolaan usaha tanaman  jagung secara cangih, maka ada keyakinan warga daerah Aur Malintang, Sungai Geringging, Batang Gasan, Sungai Limau dan V Koto Timur bisa sejahtera dan makmur[*].

Tidak ada komentar

Gambar tema oleh Leontura. Diberdayakan oleh Blogger.