Alek Nagari Luak Rantau - CANANG NEWS

Breaking

Kamis, 05 September 2019

Alek Nagari Luak Rantau



Oleh, Bagindo Yohanes Wempi


SISTEM  sosial budaya Luak Rantau Piaman sangat majemuk, variatif dan bernilai tinggi. Di sini tumbuh sistem sosial budaya yang menggambarkan adanya keanekaragaman seni budaya yang bermartabat. Terutama dalam sisi budaya kesenian, yang paling terkenal salah satunya adalah alek nagari yang mengakar disetiap nagari.

Meninjau perjalanan panjang alek nagari, sebenarnya telah dipengaruhi oleh perkembangan zaman. Sebelum Islam masuk, alek nagari sudah ada dinamakan dengan alek pauleh, panyabuangan, dll.  Alek pauleh, panyabuangan ini mewujudkan suatu pertandingan yang sifatnya kompotisi kesenian kebatinan yang berujung pada korban jiwa.

Situasi ini diubah ketika ulama besar Syekh Burhanuddi menyampaikan ajaran Islam, sehingga disaat itu nilai-nilai alek nagari sudah tersentuh dengan ajaran Islam, yang sifatnya alek nagari kompotisi kesenian kebatinan,  menjadi sarana membangun silaturahim dan persaudaraan atar nagari.

Saat Islam masuk keranah minang, acara alek nagari dijalankan dengan menerapkan nilai-nilai agama. Sehingga, alek nagari pada waktu itu tidak ada lagi perjudian, tidak ada menyambuang ayam, tidak ada adu kerbau, tidak adalagi adu kebatinan atau pergelaran kesenian lainnya yang sifatnya melanggar niali-nilai adat- basandi syarak,syarak basandi kitabullah (ABS-SBK).

Tapi, secara umum diilihat dari sejarahnya alek nagari dalam data yang penulis dapatkan bahwa pergelaran alek nagari ini, lahirnya, tidak banyak ninik mamak yang tahu, mereka hanya tahu alek nagari ini sudah ada semenjak gunung marapi, jo gununang singgalang sagadang talua itiak. Artinya tidak ada catatan sejarah yang menjelaskan tentang itu, yang ada kaba (cerita) dari generasi ke generasi.

Bercerita mendalam tentang alek nagari, merupakan alek atau pesta  kepemilikannya para penghulu/ninik mamak, yang dalam pelaksanaannya disalangkan (pinjamkan) oleh ninik mamak kepada anak mudo (generasi muda) selaku penyelenggara kegiatan tersebut.

Pergelaran alek nagari diawali dari suatu prosesi adat istiadat yang diatur melalui musyawarah ninik mamak dan anak mudo-mudo yang diwakili oleh kapalo mudo. Seluruh ninik mamak dan pemuka masyarakat yang ada disetiap nagari-nagari di luak rantau (piaman) berkumpul dan mengadakan parudingan, atau musyawarah terlebih dahulu untuk menyepakati diadakan acara alek nagari tersebut.

Maka dalam parundiangkan atau musyawarah disepakati mancabiak siriah dalam cirano rencana alek nagari. Dimulai dengan ninik mamak memberikan perintah kepada anak mudo untuk melaksanakannya, ini diawali duduk barapak (berkumpul) sebelum dilaksanakan alek nagari.

Setelah itu baru disepakati  penampilan kesenian apa saja yang akan digelar, seperti menyepakati penampilan randai, ulu ambek, indang dan pemainan kesenian ninik mamak lain-lainya. Terakhir, menyepakati aturan-aturan larangan, serta aturan apa saja yang dibolehkan dalam acara alek nagari tersebut.

Realisasi alek nagari biasanya dilakukan mulai beberapa hari, seminggu, ada yang sebulan, semua tergantung  kesepakatan serta berapa  lama penampilan kesenian itu dilakukan. contoh, penampilan indang berapa kali naik (tanpi) , jika lima kali, indang tersebut berarti lebih dari enam hari.

Penampilan ulu ambek berarti tambah lagi harinya.  Maka penentuan hari tergantumg  dari banyak penampilan kesenian yang direncanakan. Dilihat dari perjalan pergelaran alek nagari yang dilakukan tersebut, memberikan dampak positif terhadap masyarakat nagari, baik dari sisi hiburan, budaya dan ekonomi. 

Dengan adanya alek nagari digelar maka kehidupan masyarakat jadi  semarak, dan bemakna. Setelah selesai satu acara, maka alek nagari berikutnya akan digelar juga dinagari lain yang ada jeda waktu. Sehingga,  dalam perjalannya alek nagari ini berbentuk kegiatan arisan, berpindah dari satu nagari ke nagari lain.

Jadi keberadaan alek nagari akan terus menerus dilaksanakan di setiap nagari sepanjang tahun. Dengan berjalannya waktu alek nagari sudah mulai mengalami degradasi nilai dari adat istiadat muasalnya, yang dahulu alek nagari di jalankaan melalui proses adat sakral yang bernilai tinggi dengan sentuhan nilai-nilai Islam.

Sekarang tidak lagi, alek nagari sudah begeser dari adaik  lamo pusako usang. Situasi ini jika dilihat dilapangan sudah memprihatinkan. Alek nagari sekarang sudah bergeser pada hiburan semata,  seperti pasar malam didaerah Jawa, yang tidak ada nilai budayanya.

Disebut alek, tapi sudah menyimpang dari adat minangkabau. Karna  menampilkan kesenian modren yang menyimpang, dan dapat merusak moral masyarakat, seperti penampilan orgen tunggal yang mendatangkan perempuan yang mengumbar sahwat.

Sehingga kemurnian dari tampilan kesenian alek nagari tidak lagi berbudaya tinggi. Situasi ini bisa dilihat dari sisi pengelolaan alek nagari yang sudah masuk nila-nilai dari Barat, misalnya  sudah disediakan cafe remang-remang yang menyediakan minum-minuman beralkohol, video sensual, serta dilengkapi dengan wanita-wanita penghibur yang makin merusak nilai-nilai budaya minangkabau.

Tidak itu saja,  kemerosotan dilengkapi dengan menyediakan arena perjudian, yang dahulu sangat dilarang sekali.  Sehingga, jika dilihat secara garis besar maka acara alek nagari sudah mirip dengan lokalisiasi hiburan ala barat (texas) atau pasar malam era belanda yang akan merusakan nilai-nilai minangkabau.

Itulah kondisi alek nagari yang diselengarakan saat ini. Situasi alek nagari seperti saat ini jika dibiarkan akan merusak  tatanan nilai-nilai luhur  kehidupan masyarakat nagari yaitu “adat basandi syarak-syarak basandi kitabullah”.

Maka, saatnya alek nagari ini kembali dibenahi caro adat lamo, pusako usang. Membenahi alek nagari yang sudah menyimpang ini sangatlah tidak mudah, karena alek nagari  terjebak kedalam alat hiburan dan komersialisasi semata. Secara teori, mengembalikan alek nagari kenilai-nilai aslinya, ibarat “pinang kembali katampuaknyo, siriah kembali kagagangnyo”.

Sehingga ninik mamak dan alim ulama harus menertipkan alek nagari sesuai nilai-nilai budaya minangkabau.  Seperti melarang adanya sarana perjudian, hiburan modren seperti orgen dibatasi, jika diperlukan ditiadakan saja.

Ninik mamak selaku penanggung jawab alak nagari harus menegakkan ke kebenaran hakiki. Pihak pemerintah, melalui kepala daerah (Walikota, Bupati, Gubernur) harus bekerjasam dengan pihak-pihak penegak hukum menertibkan alek nagari yang digelar dinagari.  Jika  telah melanggar hukum, harus ditindak  tegas.

Sehingga ketentraman masyarakat bisa tercipta dan amannya anak-anak terhidar dari ganguan kerusakan moral. Secara umum, alak nagari sangat bermanfaat bagi masyarakat. Alek nagari harus dipertahankan pelaksanaan secara adat lamo pusako usang, karena  merupakan pergelaran kesenian peninggalan sejarah lama kebudayaan minangkabau, khusus orang Luak Rantau.

Sangat ideal alek nagari ini dipertahankan. Jika ada inovasi-inovasi baru sesuai dengan perkembangan zaman, harus disesuaikan dengan nilai-nilai keminangkabau-an (*)


1 komentar:

  1. Assalamualaikum,sungguh goresan yg penuh makna,uptudate,realistis,dan logis serta membangun.
    Kalau boleh berkomentar tentang goresan dg judul " Kemiskinan dan Rasa Kebahagiaan ( Padang Pariaman ) yg menyangkut prosesi adat dg hal kemiskinan di Padang Pariaman.
    Dengan argumen Penulis menggambarkan bahwasanya prosesi adat berdampak terhadap kemiskinan,dan perlu dibenahi,apakah sekiranya pemikiran seperti ini kalau dilihat terlalu dini untuk digoreskan hingga dipublikasikan,hingga sebagai kambing hitam dalam kurang dan atau ketidak berhasilan dalam meningkatkan taraf ekonomi masyarakat,sekiranya yg menjadi kekayaan khasanah ADAT NAN DIADATKAN di Kabupaten Padang Pariaman,sesuatu yg mestinya menjadi kebanggaan bisa juga dianggap sebagai faktor dari susahnya menyelesaikan sebuah PR.
    Adat Salingka nagari ( nagari Padang Pariaman ) dalam hal prosesi adat sebagaimana paparan penulis diatas adalah ADAT NAN DIADATKAN, dan memang ada bahasa yg mengatakan hal sedemikian dg istilah " Maangkek Baban " ( bagi pihak mempelai wanita ).akan tetapi kalau dilihat dari sisi lain dlm prosesi inilah sangat dituntut kebersamaan dan kesolidan dalam hal berkeluarga dan berkaum,hingga peranserta lingkungan dan masyarakat,hingga terlaksananya prosesi adat ini dari awal sampai akhir dg sukses.
    Akan tetapi penulis pasti punya dasar telaah dan penelitian,Namaun seberapa besar pengaruhnya prosesi adat terhadap kemiskinan di Padang Pariaman, dan dari sudut pandang mana hal ini menjadi kajian,mari sama sama kita dalami,....mohon maaf atas kalau salah kata,wassalam 🙏

    BalasHapus