Pengalaman Rohani Perjalanan Haji (4) Tawaf Berputar Sebagai Poros Bumi


Catatan Dr H Helmi MAg *)

Jutaan jamaah melaksanakan tawaf mengelilingi Ka'bah di dalam Masjidil Haram yang diyakini sebagai poros bumi

TAWAF berarti mengitari/mengelilingi, sebagai satu rangkaian ibadah yang hanya dilakukan di Baitullah, Yaitu mengelilingi Ka'bah sebanyak 7 (tujuh) kali putaran yang diawali dan diakhiri di sudut Hajar Aswad.

Tawaf membawa pesan maknawi berputar pada poros bumi yang paling dasar. Perputaran 7 keliling bisa diartikan sama dengan jumlah hari  yang beredar dalam setiap minggu. Sedangkan lingkaran pelataran Ka'bah merupakan arena pertemuan dengan Allah Yang Mahakuasa yang dikemukakan dengan doa dan dzikir yang selalu dikumandangkan selama mengelilingi Ka' bah, agar kita menghayati hakekat Allah sebagai Khaliq dan manusia sebagai makhlukNya, hubungan manusia dengan Pencipta dan ketergantungan manusia akan TuhanNya.

Tawaf bagai mengajak untuk mengikuti perputaran waktu dan peredaran peristiwa, namun tetap berdekatan dengan Allah.

Berputar mengelilingi Ka'bah dapat diartikan bergerak sebagai tanda adanya kehidupan. Kondisi kehidupan terus perputar di antara manusia, jatuh-bangun, kaya-miskin mewarisi kehidupan manusia silih berganti.
Tawaf pada lahirnya adalah mengelilingi Ka'bah, bangunan batu hitam, tetapi pada hakekatnya kita mengelilingi Yang Maha Memiliki bangunan itu artinya hidup kita selalu bersama Allah dan pada akhirnya kita akan kembali kepadaNya.

Dalam pelaksanan tawaf, khususnya tawaf umrah dan tawaf ifadhah, jamaah haji Indonesia pada umumnya melakukannya secara berombongan, kalau tidak bisa dikatakan satu kloter, dengan harapan dapat saling membantu dan saling mengingatkan dalam bacaan-bacaan zikir dan doa.

Namun, kenyataannya selalu saja ada jamaah yang terpisah dari rombongan dalam melaksanakan tawaf. Karena itu jamaah calon haji harus bisa mandiri dan  punya rasa percaya diri dalam beribadah. Artinya dalam beribadah tidak  tergantung dengan orang lain. Manasik haji yang dilaksanakan secara professional dapat mengantarkan jamaah haji yang mandiri dan  syar'i.

Jika ada jamaah terpisah dari rombongannya ketika tawaf maka jamaah itu langsung melanjutkan ibadahnya. Kalau belum lengkap putaran tawafnya, maka ia melengkapkannya 7 putaran. Jika tawaf sudah lengkap maka dilanjutkan dengan sa'i dan tahalul.

Setelah selesai semua rangkaian ibadahnya maka jamaah tersebut mencari rombongannya sesuai komitmen tempat berkumpul dan berdoa kepada Allah agar dipertemukan dengan rombongannya. Jika tidak juga bertemu dengan rombongan, setelah dikontak tidak juga berhasil maka jamaah tersebut dapat langsung ke hotel tempat tinggal melalui terminal dan bus yang telah ditetapkan.

Pengalaman Pak Taufik seorang jamaah haji asal Embarkasi Padang, ketika melaksanakan umrah wajib, setelah ihram ia bersama teman-teman satu kloter langsung ke Haram, sama-sama tawaf. Pada putaran ketiga ia tidak melihat kawan-kawan se-rombongan lagi. Di sekitarnya adalah orang-orang yang tidak dia kenal.

“Sesuai ilmu yang saya dapatkan ketika manasik, saya lanjutkan tawaf hingga 7 putaran. Selanjutnya saya shalat sunnat dan berdoa. Selesai berdoa, Alhamdulilah... saya menemukan kawan-kawan se-rombongan. Benar-benar pengalaman rohani yang luar biasa,” kata Taufik mengakhiri.

*) Pembimbing Ibadah Kloter 16 PDG, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Padang Pariaman

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama