Header Ads

jasa

Agusriatman: Jurnalistik Identik dengan Tugas Penyuluh Pertanian

Kepala Dinas Pertanian & Pangan Kota Pariaman Ir H Agusriatman MSi (dok pariamantoday.com)


PARIAMAN, CanangNews – Sebanyak 30 Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) se-Kota Pariaman mengikuti sosialisasi kewartawanan. Kegiatan itu dimaksudkan sebagai langkah untuk menerbitkan Bulettin Sahabat Tani. Panitia menghadirkan tiga narasumber, Sekretaris Dinas Pertanian & Pangan Ir Dewi Sastra MM, Praktisi Jurnalistik Zakirman Tanjung dan Praktisi Humas Muhammad Rusdi.

 

Kepala Dinas Pertanian & Pangan Kota Pariaman Ir H Agusriatman MSi ketika membuka sosialisasi itu, Kamis (16/3/2017) mengemukakan, PPL merupakan ujung tombak Dinas Pertanian dalam upaya menyebar-luaskan informasi kepada para petani dan menyerap aspirasi mereka.

 

Menurutnya, penyebar-luasan informasi akan lebih efektif melalui tulisan, baik dalam bentuk pemberitaan maupun jenis-jenis tulisannya. “Oleh karena itu, kegiatan ini akan sangat bermanfaat untuk menambah wawasan serta mempelajari secara mendalam teknik-teknik penulisan laporan jurnalistik.”

 

Ia menegaskan, kegiatan jurnalistik dan kewartawanan sangat identik dengan tugas-tugas penyuluhan pertanian. Laporan para PPL tidak hanya untuk diketahui pimpinan tetapi terutama untuk para petani. Penyampaian informasi secara lisan tidak selalu dapat diserap oleh para petani yang mendengar.

 

“Informasi itu sangat mahal. Tanpa adanya informasi, kita tidak akan mengetahui apapun,” ujar Agusriatman.

 

Awal menjadi Kadis Pertanian, lanjutnya, ia menginginkan semua PPL membuat laporan secara rutin dan berkelanjutan tentang kegiatan yang mereka lakukan di lapangan. “Nyatanya, hingga sekarang belum ada penyuluh yang membuat laporan, belum ada yang sampai ke meja saya. Padahal, apa sih susahnya membuat laporan?” tandasnya.

 

Terkait rencana menerbitkan Bulettin Sahabat Tani Pariaman, Agusriatman menjelaskan, antara lain untuk menghimpun informasi dari lapangan, menyebar-luaskan informasi kepada para petani serta sebagai upaya meningkatkan kualitas dan kesejahteraan para PPL.

 

Ia juga mengingatkan para PPL untuk rajin membaca berita-berita yang terpublikasi di media massa, baik cetak maupun online. Jika terkait dengan kegiatan pertanian supaya meng-kliping atau men-save pemberitaan atau tulisan tersebut untuk kepentingan tugas.

 

Kota Pariaman, papar Agusriatman terdiri dari 55 desa dan 16 kelurahan. Dengan 30 tenaga PPL yang dimiliki Dinas Pertanian berarti satu PPL untuk setiap desa belum terpenuhi.

 

Sedangkan Sekdis Dewi Sastra menambahkan, dalam membuat laporan kegiatan pun PPL harus mengacu kepada rumusan jurnalistik. Dengan kata lain, setiap laporan harus memuat enam unsur yang pada kalangan wartawan dikenal dengan 5W + 1H. Yakni apa yang terjadi, siapa yang terlibat, kapan, di mana, mengapa dan bagaimana.

 

Rekreasi > bekerja sesuai kegemaran

 

Pada sesi berikutnya, Praktisi Jurnalistik Zakirman Tanjung (ZT) tidak ikan hanya memaparkan teknik-teknik jurnalistik dan kepenulisan secara mendalam, termasuk dasar-dasar hukum dan kode etik, tetapi juga memberikan berbagai motivasi kepada para penyuluh. Ia bahkan memaparkan nilai-nilai plus yang dapat diperoleh wartawan dan penulis.

 

“Wartawan dan / atau penulis merupakan sebuah profesi terhormat, tetapi bisa menjadi tercela jika pelakunya menghalalkan segala cara. Wartawan dihormati karena kecerdasan dan karakter positif yang mereka terapkan dalam menunaikan profesi,” cetus ZT.

 

Ia memotivasi para penyuluh untuk bekerja melebihi besaran penghasilan yang diterima, bukan sebaliknya. “Jika anda misalnya berpenghasilan Rp3 juta / bulan, bekerjalah seakan-akan berpenghasilan Rp6 juta. Kelebihannya akan diberikan Allah Yang Mahakaya dalam bentuk bonus seperti kesehatan, keluarga yang harmonis, ketenangan pikiran dan hati, terpelihara dari fitnah dan musibah serta memperoleh rizki yang tak terduga.”

 

Jika sebaliknya, lanjut Zakirman, berpenghasilan misalnya Rp3 juta tetapi bekerja seakan-akan berpenghasilan Rp1,5 juta, Allah Yang Mahakuasa akan mengambil kekurangnya dalam bentuk seperti kegelisahan, penyakit, keluarga tak harmonis, ftnah dan musibah serta pengeluaran yang sering tak terduga.

 


Oleh karena itu, ia meminta para penyuluh menyukai atau menggemari kegiatan atau profesi mereka. Sebab, rekreasi yang paling menyenangkan adalah bekerja sesuai dengan kegemaran. (IB) 

2 komentar:

Gambar tema oleh Leontura. Diberdayakan oleh Blogger.