Header Ads

jasa

Rombongan Tim Penjemputan Jasad Tan Malaka Dilepas




 Lima Puluh Kota, Canangnews------Tim delegasi penjemputan jasad pahlawan revolusi asal Limapuluh Kota, Ibrahim Datuk Tan Malaka, sudah diberangkatan dari Kabupaten Limapuluh Kota, Kamis (16/2) pagi. Rencananya, rombongan yang berjumlah sekitar 150 orang itu akan tiba di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Senin (20/2). 

Pelepasan Tim Delegasi Penjemputan Jasad Tan Malaka dipimpin langsung oleh Wakil Bupati Ferizal Ridwan di Tanjung Pati sekitar pukul 10.00 WIB. Tim yang terdiri dari para tokoh Sumatera Barat dan masyarakat Limapuluh Kota ini berangkat menggunakan 8 unit kendaraan, yang terdiri dari 3 unit bus dan 5 mobil pribadi. Armada rombongan dibubuhi stiker dan spanduk.

"Hari ini, tim delegasi penjemputan Jasad Tan Malaka resmi kita lepas. Rombongan berangkat dari Limapuluh Kota menempuh jalur darat dan akan menyinggahi beberapa daerah di Pulau Sumatera dan Jawa. Selaku panitia, kami memohon do'a seluruh masyarakat buat keselamatan tim selama di perjalanan," kata Wabup Ferizal Ridwan saat prosesi pelepasan.

Menurut Ferizal, tim delegasi yang berangkat ke Kediri sebelumnya mendaftar kan diri di posko panitia tim delegasi yang berlokasi di Sarilamak dan Tanjung Pati. Ratusan peserta terdiri dari para tokoh peduli dan masyarakat itutergabung dari Yayasan Peduli Perjuangan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (YPP-PDRI) dan Tan Malaka Institute (TMI) Sumatera Barat.

Mereka yang ikut dalam rombongan itu terdiri dari para tokoh ulama, tokoh adat, tokoh sejarah, unsur pemuda, LSM hingga wartawan. Sebagian bahkan terdiri dari ibu-ibu berusia di atas 50 tahun. Tak ketinggalan sejumlah pejabat di kementrian serta beberapa Anggota DPR RI, di antaranya Khatibul Umam Wiranu (politisi Demokrat-Direktur Eksekutif TMI Pusat), Fadli Zon (Politisi Gerindra).

Beberapa hari sebelumnya, lanjut Ferizal, tim panitia terlebih dahulu sudah memberi pembekalan atas prosesi kegiatan yang akan diikuti para peserta. Pembekalan dilakukan di Rumah Dinas Wakil Bupati serta di Komplek Museum dan Pustaka Tan Malaka di Nagari Pandam Gadang. Seperti prosesi qirab, khaul di Pondok Pesantren Lirboyo hingga solat ghoib di lokasi makam.

"Tim delegasi akan disambut secara adat dan agama oleh unsur pemerintah Kediri, para ulama di Ponpes Lirboyo. Kita sudah komunikasi dengan unsur pemerintah Kediri, kementrian terkait di pemerintah pusat serta tim panitia penyambutan di sana. Prosesi ini terlaksana, murni berkat dukungan moril dan materil masyarakat yang peduli terhadap perjuangan Tan Malaka," tambah Ferizal.

Kepada para peserta, Wabup Ferizal tak henti memaparkan tentang sosok perjuangan dan pemikiran Tan Malaka, jelang kemerdekaan hingga berdirinya Republik Indonesia. Pascadikeluarkannya Keppres Nomor 53 Tahun 1963 tentang Pahlawan Kemerdekaan Nasional, katanya, seyogyanya menjadi tanggung jawab negara dan semua pihak, mengembalikan hak-hak kepahlawanan bagi Tan Malaka.

Salah satu peserta wanita tim delegasi, Yeyen Kiram, yang berasal dari Forum Malakais Kota Padang menyebut, prosesi keberangkatan tim penjemputan Tan Malaka dari Kabupaten Limapuluh Kota ke Kabupaten Kediri, murni karena panggilan jiwa, yang bersumber dari kekaguman atas pemikiran dan kepedulian agar hak-hak kepahlawanan Tan Malaka bisa dikembalikan. 

Menurutnya, prosesi penjemputan jenazah Ibrahim Datuk Tan Malaka, tidak cukup hanya dilihat sebagai sebuah aktifitas ritual dari masyarakat adat maupun dari pengikut ideologi Tan Malaka. Lebih dari, pesan yang penting disimak dari semua tahapan kegiatan ini adalah, bagaimana ideologi dan ketokohan seorang yang tak terhalangi oleh apa pun baik tempat dan waktu.

Kekuatan Tan, katanya, mampu menembus berbagai aturan dan sistim yang ada. Tan Malaka harus dilihat, diingat dan dipahami bukan karena kepahlawanannya saja. Bukan pula karena Tan lahir di Suliki, Sumatera Barat. Terpenting, bagaimana Tan mampu memberi dasar berfikir yang senantiasa teraktualkan di sepanjang zaman dan mampu menyumbang kontruksi peradaban terbaik bagi bangsa dan negara.   

"Melalui prosesi ini, maka layak dibaca bahwa 'kepulangan' jenazah Tan adalah juga 'kepulangan' bagi segenap pemikiran dan semangat almarhum. Tidak boleh berhenti atau selesai setelah deadline waktu kegiatan ini selesai. Justru inilah titik langkah dari awal keberangkatan bagi generasi masa berikutnya. Revolusi tak pernah berhenti pada prosesi dan sejarah saja, tapi akan terus berjalan sepanjang waktu," imbuh penggiat Forum Malakais tersebut. (Sardi)



Tidak ada komentar

Gambar tema oleh Leontura. Diberdayakan oleh Blogger.